Menbud Fadli Zon dorong pemetaan Talenta Seni Berbasis Talent DNA

Menbud Fadli Zon dorong pemetaan Talenta Seni Berbasis Talent DNA sebagai pondasi kebijakan kebudayaan

By :  Widodo
Update: 2026-01-12 08:28 GMT

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon (kiri) bersama Founder ESQ Group Ary Ginanjar Agustian (kanan) usai rapat pembahasan SDM kebudayaan dan manajemen talenta yang di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta. (foto: ist)

Elshinta Peduli

Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mendorong penguatan sistem pemetaan talenta seni yang lebih terukur, objektif, dan berbasis data sebagai fondasi kebijakan pengembangan kebudayaan nasional.

Menurutnya, pemetaan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan harus dilakukan secara menyeluruh dan sistematis agar pengembangan talenta tidak lagi bertumpu pada asumsi, melainkan pada potensi nyata setiap individu.

Menbud Fadli menilai pendekatan Talent DNA memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional karena mampu mengidentifikasi bakat terpendam sejak dini serta membuka ruang kolaborasi lintas sektor dalam pembinaan seni dan budaya.

“Kalau ini menjadi program nasional, kita bisa mengetahui bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan resminya, Sabtu (10/1/2026).

Hal tersebut disampaikan Menbud Fadli saat menghadiri rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, yang juga memaparkan hasil pemetaan talenta seni berbasis Talent DNA oleh ESQ Group.

Dalam kesempatan itu, Menbud menekankan pentingnya menempatkan seni setara dengan bidang lain dalam pembangunan talenta nasional.

“Pemerintah berencana mengedepankan STEM ke depan. Itu bisa ditambahkan menjadi STEAM, dengan memasukkan arts di dalamnya,” tegasnya.

Elshinta Peduli

Founder ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian, menjelaskan bahwa pemetaan talenta seni ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan enam bulan sebelumnya dengan Kementerian Kebudayaan.

Pemetaan dilakukan melalui pengisian Talent DNA oleh siswa SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.

“Objektif pengisian Talent DNA ini adalah memfasilitasi siswa untuk menggali minat, bakat, dan potensi talenta seni, kemudian melakukan seleksi untuk mengidentifikasi potensi seni yang paling menonjol sebagai dasar pembinaan lanjutan,” ujar Ary.

Ia menambahkan, pemetaan Talent DNA mencakup enam bidang seni, yaitu seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, serta seni media, film, dan animasi.

Pendekatan ini juga melihat Drive Network Action setiap individu, yakni pola motif, kecenderungan perilaku, dan cara berinteraksi yang membentuk potensi talenta seseorang.

“Motif manusia itu berbeda-beda, cara bergaulnya juga berbeda. Dari situ kita bisa melihat kecenderungan potensi, termasuk siapa yang kuat di seni, matematika, fisika, riset, dan lainnya,” jelas Ary.

Paparan hasil riset dilanjutkan oleh Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina, yang mengungkapkan bahwa dari 870 siswa yang dipetakan, potensi seni tersebar relatif merata di berbagai bidang, dengan pola keunggulan yang berbeda di setiap sekolah.

“Setiap sekolah menunjukkan keunggulan yang berbeda, sehingga pembinaan tidak bisa diseragamkan dan harus berbasis data,” jelas Dwitya.

Ia menambahkan bahwa mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan seni perlu lebih banyak berbasis praktik dan simulasi, serta menuntut peran guru yang memahami potensi individual muridnya melalui pendekatan Talent DNA.

“Guru seni harus mengenal potensi muridnya. Guru juga perlu memahami Talent DNA murid-muridnya,” ujarnya.

Menbud Fadli juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kompetensi non-akademik dalam ekosistem kebudayaan. Menurutnya, banyak maestro dan pelaku budaya yang keahliannya terbentuk melalui pengalaman panjang, bukan semata pendidikan formal.

“Ada orang yang sekolahnya tidak tinggi, tapi sudah sangat mahir di bidangnya. Itu juga bentuk kompetensi yang harus kita hargai,” katanya.

Kementerian Kebudayaan terus berupaya membangun sistem manajemen talenta kebudayaan berbasis data yang berorientasi pada potensi, serta mendukung pembinaan seni yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan zaman.

Ke depan, hasil pemetaan Talent DNA ini diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pembinaan kebudayaan yang lebih tepat sasaran, baik di tingkat pusat maupun daerah. (Dd)

Elshinta Peduli

Similar News