Murid SD di Ngada meninggal, Kemendikdasmen tekankan penguatan dukungan psikososial anak

Update: 2026-02-05 11:13 GMT

Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT meninggal dunia diduga akibat tekanan ekonomi, Februari 2026

Elshinta Peduli

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya seorang murid sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa ini menjadi keprihatinan serius dan pengingat pentingnya penguatan perlindungan serta kesejahteraan psikososial anak di lingkungan pendidikan.

“Kami turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga, teman, guru, dan seluruh warga sekolah yang terdampak. Peristiwa ini menyentuh nurani kita semua dan harus menjadi perhatian bersama,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (5/2/2026).

Kemendikdasmen menegaskan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor saling terkait. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Kemendikdasmen mencatat bahwa mendiang murid merupakan penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) dan dana telah disalurkan sesuai ketentuan. Namun demikian, kementerian menekankan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak—khususnya dari keluarga rentan—tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata.

“Bantuan pendidikan penting, tetapi tidak cukup. Anak-anak membutuhkan pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang aman dan suportif,” tegas Atip.

Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan perangkat terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga. Upaya ini mencakup dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya serta akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan.

Elshinta Peduli

Kemendikdasmen mengajak satuan pendidikan, orang tua, dan masyarakat untuk memperkuat komunikasi terbuka agar setiap anak merasa aman mengekspresikan kerentanan mereka. Penguatan kepedulian terhadap kondisi emosional anak dinilai krusial agar setiap anak merasa didengar, dihargai, dan mendapatkan pendampingan yang memadai.

“Sekolah harus menjadi ruang aman—tempat anak merasa nyaman untuk bercerita dan mendapatkan bantuan ketika menghadapi kesulitan,” ujar Atip.

Kemendikdasmen mengimbau seluruh pihak untuk menyikapi informasi secara bijak serta menghindari spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah.

Kementerian menegaskan pentingnya dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman dan suportif sebagai langkah pencegahan ke depan. (Roh/Ter)

Elshinta Peduli

Similar News