Pakar: Kematian akibat virus Nipah bisa capai 75 persen, jauh di atas Covid-19

Pakar kesehatan menilai virus Nipah lebih berbahaya meski penularannya lebih sulit.

Update: 2026-01-30 23:20 GMT

Ilustrasi AI

Elshinta Peduli

Pakar kesehatan masyarakat Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menilai virus Nipah jauh lebih mematikan dibandingkan Covid-19 berdasarkan tingkat kematian kasusnya.

Dicky menyebut tingkat kematian akibat virus Nipah bisa mencapai 75 persen. Angka ini jauh melampaui Covid-19 yang rata-rata di bawah 3 persen.

“Jika dilihat dari angka kematian, virus Nipah jauh lebih mengkhawatirkan. Case Fatality Rate (CFR) Covid-19 rata-rata di bawah 3%, sedangkan virus Nipah bisa mencapai 75%. Ini sangat tinggi,” terang Dicky saat wawancara dengan Radio Elshinta Edisi Siang pada Jumat, (30/01/2026).

Menurut Dicky, tingginya angka kematian akibat virus Nipah dipicu belum tersedianya vaksin dan terapi pengobatan yang spesifik hingga saat ini.

“Angka kematian tinggi ini dipicu karena hingga saat ini belum ada vaksin dan belum ada terapi pengobatan yang spesifik untuk virus Nipah. Selain itu, kecepatan deteksi kasus yang lambat juga memperburuk kondisi pasien,” tambahnya.

Ia menjelaskan penularan virus Nipah tidak semudah Covid-19. Virus ini membutuhkan kontak fisik langsung antar manusia.

Berbeda dengan Covid-19 yang menular lewat udara, Nipah memiliki tingkat penularan lebih rendah namun dampak kematiannya jauh lebih berat.

Dicky menegaskan kombinasi tingginya kematian, ketiadaan vaksin, dan lambatnya deteksi menjadikan virus Nipah ancaman serius bagi kesehatan global.

Stefi Anastasia/Mgg/Rama

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News