Pemkot Jaksel ajak warga terapkan 3M Plus untuk cegah DBD

Update: 2026-02-10 08:50 GMT

Ilustrasi - Nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/aa.

Elshinta Peduli

Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel) mengajak seluruh warga agar menerapkan 3M Plus untuk mencegah peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) saat musim hujan.

"Pentingnya penerapan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air," kata Wali Kota Jakarta Selatan Muhammad Anwar di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan kasus DBD berpotensi meningkat pada musim hujan akibat curah hujan tinggi yang menimbulkan banyak genangan air. Kondisi ini kemudian menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes Aegypti untuk bertelur dan berkembang biak.

"Air tergenang paling banyak saya temukan di botol-botol atau barang bekas. Hal ini menyebabkan nyamuk dapat bertelur dan berkembang biak dengan sangat cepat," ujar Anwar.

Terkait peran Juru Pemantau Jentik (Jumantik), dia meminta agar frekuensi kegiatan pemantauan ditingkatkan selama musim hujan, yakni sebanyak dua kali atau lebih dalam sepekan. Selain itu, kata Anwar, kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mandiri juga harus terus dilaksanakan.

Meskipun tidak semua masyarakat mampu melakukan pemantauan jentik nyamuk secara mandiri, sambung dia, tim Jumantik harus melakukan sosialisasi dan peninjauan langsung ke rumah-rumah warga guna memastikan tidak terdapat jentik nyamuk.

Elshinta Peduli

"Kekhawatiran saya adalah ketika satu rumah sudah bersih, tetapi di lahan kosong atau tanah milik tetangga masih terdapat botol bekas atau barang yang menampung air. Itu menjadi tempat nyamuk berkembang dan akhirnya menggigit warga di sekitarnya," tutur Anwar.

Maka dari itu, dia menegaskan peran, kesadaran, dan kepedulian seluruh pemangku kepentingan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan mampu mencegah penyebaran DBD di Jakarta Selatan.

"Mari kita jaga lingkungan dengan baik. Kantor-kantor pemerintahan juga harus bersih agar tidak menjadi sumber penularan DBD," ungkap Anwar.

Berdasarkan data Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Selatan, terdapat 38 kasus DBD pada Januari 2026. Kepala Sudinkes Jakarta Selatan Debi Intan Suri mengatakan remaja dan dewasa muda menjadi kelompok usia yang paling rentan terpapar DBD. Kasus tertinggi tercatat pada kelompok usia 12-25 tahun, disusul anak usia 5-11 tahun dan kelompok usia produktif 26-45 tahun. Sementara itu, kelompok lanjut usia mencatat jumlah kasus yang relatif lebih rendah.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News