Perpusnas: Literasi di era AI jadi fondasi kepemimpinan nasional
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz saat memberikan ceramah pada peserta pendidikan penyiapan dan pemantapan pimpinan nasional di Jakarta pada Senin (9/2/2026). ANTARA/HO-Perpusnas.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) E. Aminudin Aziz menegaskan peran strategis literasi di era akal imitasi (AI) dalam membentuk pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif di era perubahan. Menurut Aminudin, perkembangan teknologi sudah tidak dapat dihindari, tetapi hal tersebut tidak boleh menggantikan proses berpikir manusia yang fondasinya perlu diperkuat melalui peningkatan literasi.
"Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Aminudin mengemukakan rendahnya literasi bukan semata disebabkan oleh minimnya minat baca, melainkan keterbatasan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pembaca. Untuk itu, Perpusnas saat ini mengelola lebih dari 9,7 juta eksemplar koleksi, mencakup buku, majalah, peta, monograf, audiovisual, buku digital, serta koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa.
Pemanfaatan akal imitasi (AI) juga digunakan Perpusnas dalam upaya pelestarian bahasa daerah. Dengan lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia dan beberapa di antaranya terancam punah. Perpusnas sejak tahun 2021 telah mengembangkan program pendokumentasian bahasa daerah berbasis teknologi.
"Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi," ujar dia.
Aminudin menegaskan bahwa penguatan literasi tidak boleh sepenuhnya bergantung pada teknologi digital. Perpusnas tetap memprioritaskan penyediaan buku cetak, khususnya bagi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
"Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa," katanya.
Aminudin menilai pentingnya literasi digital untuk menangkal disinformasi. Menurutnya, konten bermuatan fitnah dan manipulasi dapat diidentifikasi secara ilmiah, dengan literasi digital yang menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak narasi menyesatkan, sehingga berpotensi merusak kebangsaan.
Selain itu, lanjut dia, data literasi seharusnya digunakan sebagai dasar perbaikan kebijakan, bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memperbaiki kebijakan dan memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Perpusnas terus memperkuat literasi melalui penyediaan bahan bacaan yang relevan, pengembangan taman bacaan masyarakat, serta pendistribusian buku ke sekolah dan desa.
Perpusnas juga mendorong gerakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima), program literasi berbasis partisipasi masyarakat yang melibatkan mahasiswa dan pemangku kepentingan di tingkat lokal.


