Petugas bersihkan material longsor di lokasi wisata Lombok Timur
Petugas gabungan TNI-Polri dan masyarakat bergotong-royong membersihkan material longsor yang menutup akses lalu lintas menuju tempat wisata di wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Dalam peristiwa bencana alam itu tidak ada korban jiwa, namun mengganggu arus lalu lintas," kata Kasi Humas Polres Lombok Timur AKP Nicolas Osman di Lombok Timur, Jumat.
Hujan lebat disertai angin kencang yang terjadi pada pekan ini mengakibatkan tanah longsor di jalur wisata Pusuk Sembalun dengan tumpukan tanah dan batu menimbun badan jalan. Selain itu, longsor terjadi di tempat wisata Desa Kembang Kuning Kecamatan Sikur.
Akibatnya, akses untuk transportasi menjadi terganggu, sehingga petugas gabungan dari Polri,TNI bersama masyarakat berusaha untuk membersihkan tumpukan tanah dengan menggunakan alat seadanya.
"Tanah longsor terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi mengguyur Kecamatan Sembalun selama empat hari berturut-turut disertai angin kencang serta kondisi tanah yang labil," katanya.
Sementara itu, salah satu pengendara Nur Abdul Aziz yang hendak menuju Sembalun mengaku longsor di Pusuk Sembalun dan sejumlah jalan wisata Sembalun.
"Ya, tadi saya mau turun dari Pusuk, tiba-tiba longsor yang mengakibatkan kami menunggu petugas untuk evakuasi tanah yang menutupi jalan," katanya.
Aziz mengatakan para pengendara sempat menunggu beberapa menit untuk bisa melanjutkan perjalanan menuju Sembalun maupun sebaliknya.
"Kalau untuk roda dua cepat kita jalan, ini yang pakai roda empat harus menunggu lama, karena tidak bisa dilalui," katanya.
Burhan, salah satu warga mengatakan saat ini Desa Kembang Kuning mengalami longsor yang diakibatkan hujan deras dengan durasi lama.
"Hari ini kami dan warga gotong-royong evakuasi longsor, tapi beruntung tidak ada korban jiwa dan tidak ada bangunan yang rusak," katanya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk mewaspadai periode puncak musim hujan yang terjadi pada Dasarian II Januari 2026.
"Saat ini wilayah NTB sudah memasuki periode musim hujan dan sebagian sedang memasuki periode puncak," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nindya Kirana.
Berdasarkan laporan BMKG, kondisi curah hujan di NTB sempat menurun saat musim hujan pada Dasarian I Januari 2026. Periode jeda monsun yang dikenal istilah penurunan curah hujan lumrah terjadi di kawasan Asia Tenggara saat periode musim hujan.
Nindya mengatakan masyarakat tetap harus mewaspadai potensi curah hujan di dasarian mendatang pada periode puncak musim hujan, meski terdapat pengurangan curah hujan beberapa waktu ke belakang.
"Kami imbau masyarakat memperhatikan kebersihan dan debit di wilayah aliran air, serta mewaspadai potensi hujan ekstrem dan angin kencang yang dapat terjadi secara tiba-tiba," ujarnya.


