RI tambah anggaran khusus guna percepatan deteksi TBC pada 2026
Kementerian Kesehatan mengatakan, pihaknya menambah anggaran khusus guna mendukung percepatan deteksi tuberkulosis (TBC) pada 2026, dan anggaran itu difokuskan untuk perluasan akses layanan skrining dan diagnosis TB, terutama di daerah yang kasusnya tinggi.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan di Jakarta, Sabtu, bahwa untuk mencapai eliminasi TBC, Indonesia memiliki beberapa indikator program yang harus dikejar, yaitu penemuan kasus, keberhasilan pengobatan dan pemberian Terapi Pencegahan TB (TPT).
"Berdasarkan data Sistem Informasi TB, hingga 11 Januari 2025, penemuan kasus TB tahun 2025 baru mencapai 79 persen dari target nasional sebesar 90 persen, sehingga masih terdapat kesenjangan sekitar 11 persen yang perlu dikejar," kata Aji.
Meski demikian, katanya, capaian inisiasi pengobatan sudah relatif baik, terutama pada TB Sensitif Obat sebesar 93 persen dari target 95 persen dan TB Resistan Obat sebesar 83 persen dari target 95 persen dari kasus yang ditemukan.
Namun, dari sisi keberhasilan pengobatan, katanya, khususnya TB Resistan Obat yang baru mencapai 59 persen, capaian ini masih di bawah target dan menunjukkan perlunya penguatan pada aspek kepatuhan pengobatan, pendampingan pasien, serta dukungan sistem layanan.
Oleh karena itu, pada 2026, pihaknya berfokus pada prinsip Temukan TB, Obati Sampai Sembuh atau TOSS TB, yang mencakup upaya-upaya antara lain skrining TB secara aktif, investigasi kontak pasien TBC, penguatan pencatatan laporan TB, serta penguatan kolaborasi.
"Intervensi utama meliputi pendistribusian dan penguatan pemanfaatan alat diagnostik, seperti pemeriksaan rontgen dada (X-ray) serta pemanfaatan Near Point of Care Testing (NPOCT), guna meningkatkan kapasitas deteksi dini dan penemuan kasus secara lebih cepat dan akurat," katanya.
Dia berharap inisiatif ini dapat mempercepat penemuan kasus TBC, menekan penularan, serta mendukung pencapaian target nasional penanggulangan TBC.
Aji mengingatkan bahwa TBC dapat dicegah dan disembuhkan, sehingga publik perlu menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rutin berolahraga, menghindari rokok dan alkohol, serta memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, atau penurunan berat badan.
"Bagi saudara-saudara kita yang sedang menjalani pengobatan TB, tetaplah semangat dan patuhi pengobatan secara disiplin hingga tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan. Pengobatan yang teratur adalah kunci utama untuk sembuh dan mencegah penularan," katanya.
Dia juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak memberikan stigma atau menjauhi pasien TB. Sebaliknya, mari kita dukung, beri semangat, dan rangkul mereka.


