Saat radio tak lagi putar lagu: Kilas balik 26 tahun Elshinta News and Talk
Keputusan berani melawan arus, 26 tahun bertahan sebagai radio berita tanpa lagu
Wakil Pimred Radio Elshinta, DS Krisanti
Mei 1998. Jakarta tegang. Kerusuhan pecah di sejumlah titik. Situasi politik berubah cepat, harga-harga melonjak, dan orang-orang mencari kabar yang pasti. Di tengah kekacauan itu, ruang redaksi Radio Elshinta menghadapi dilema, pantaskah sebuah radio tetap memutar lagu saat negeri sedang genting?
Jawaban DS Krisanti tegas,
“Kita punya idealisme. Mana mungkin kita siaran dengan lagu dan happy-happy, sementara situasi Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” kenang Wakil Pemimpin Redaksi Radio Elshinta itu. Krisanti kala itu masih berperan sbagai produser dan Host Program Morning Show Radio Elshinta.
Memilih melawan arus
Keputusan tersebut bukan lahir dalam semalam. Ini adalah taruhan besar di tengah industri yang saat itu nyaris sepenuhnya bergantung pada musik dan hiburan.
Tahun 1998 menjadi titik balik. Elshinta mulai mengurangi lagu secara bertahap, pagi dulu, kemudian siang. Sore hari sudah ada program berita yang dipertahankan. Tapi perubahan radikal tengah dirancang, menjadi radio berita 24 jam tanpa lagu.
Namun pertanyaan besar muncul, siapa yang mau mendengar radio tanpa lagu? Bukankah radio identik dengan hiburan?
“Dalam satu forum diskusi memang banyak yang menyayangkan. Apa ada yang mau dengerin Elshinta tanpa lagu, sementara radio umumnya hiburan memutar lagu,” ujar Krisanti.
Logikanya sederhana. Tanpa lagu, pendengar bisa pergi. Tanpa pendengar, iklan bisa hilang. Secara bisnis, keputusan itu berisiko.
Tapi bagi Elshinta saat itu, informasi dianggap kebutuhan utama.
“Informasi itu adalah kebutuhan utama masyarakat, informasi itu tidak mengenal segmen, siapapun mau tahu soal kenaikan harga BBM, siapapun perlu info soal situasi keamanan, maka kami meyakini bahwa radio berita ini pasti akan bertahan," ujarnya.
1998-2000: Dua tahun meraba dalam gelap
Dua tahun berikutnya menjadi fase pembelajaran intensif. Tim yang sebagian besar bukan berlatar belakang jurnalis mulai belajar dari nol. Mereka membaca buku komunikasi, buku jurnalistik, belajar menjadi reporter, belajar teknik wawancara. Elshinta bahkan menggandeng BBC London dan Voice of America untuk memahami dasar-dasar jurnalisme media berita internasional.
Hingga akhirnya, pada 14 Februari 2000, Elshinta resmi menjadi radio berita tanpa lagu 24 jam penuh. Format yang saat itu belum lazim di industri radio Indonesia.
Menghibur Tanpa Tertawa
Tantangan berikutnya adalah bertahan. Radio lain tetap menawarkan hiburan, lagu-lagu populer, candaan penyiar, dan iklan mengalir mengikuti jumlah pendengar. Di tengah industri seperti itu, radio berita harus mencari jalannya sendiri.
Menurut Krisanti, radio berita tetap bisa menghibur, meski bukan dengan tawa atau lelucon.
“Ternyata dari pengalaman yang kita lakukan, radio berita itu bisa menghibur loh,” ujarnya.
Hiburan yang dimaksud bukan sekadar membuat orang tertawa. Lebih dari itu, ia menghadirkan kedekatan. Anchor yang bertanya tajam, reporter yang menggambarkan suasana lapangan, pendengar yang ikut terlibat, semuanya menciptakan pengalaman interaktif.
“Kesuksesan satu program news terlihat ketika pendengar sampai di lokasi tapi tetap mendengarkan siaran hingga selesai,” kata Krisanti. Ia menambahkan, ada pendengar bahkan menunda turun dari mobil demi menyelesaikan sesi wawancara.
Dari situ, engagement tumbuh. Kedekatan menjadi modal. Data AC Nielsen mencatat Elshinta konsisten masuk lima besar radio dengan jumlah pendengar terbesar hingga 2025. Iklan tetap datang. Radio berita yang dulu diragukan justru menemukan jalannya.
Live report jadi ciri khas, pendengar jadi kekuatan
Sejak awal, kata Krisanti, partisipasi pendengar menjadi fondasi. Elshinta dan pendengar saling memberi dan menerima informasi. Laporan langsung dari lapangan menjadi ciri khas Elshinta.
“Kesaksian langsung di lapangan itu memiliki nilai yang luar biasa,” kata Krisanti. Pendengar, menurutnya, bisa merasakan theatre of the mind, seolah berada di lokasi peristiwa.
Marwah itu dipertahankan hingga kini. Meski zaman berubah cepat. Jika dulu kuat dengan citizen journalism, kini masyarakat memiliki medianya sendiri melalui akun media sosial.
Di tengah banjir informasi, hoaks, dan konten berbasis kecerdasan buatan, kebutuhan akan verifikasi justru makin terasa.
“Elshinta adalah media yang semua berita-beritanya terverifikasi dan memiliki kredibilitas,” ujar Krisanti. Ia menekankan pentingnya check and recheck, konfirmasi langsung, dan keberimbangan.
Reputasi, katanya, dibangun dalam waktu panjang. 26 tahun bukan perjalanan singkat. Keputusan paling berani, menurutnya, tetap sama, bertahan sebagai radio berita tanpa lagu.
Selain itu, ada satu garis tegas yang dijaga, independensi.
“Tidak boleh ada jurnalis Elshinta yang terlibat dalam partai politik dan kekuasaan,” tegas Krisanti.
Pilihan itu membuat posisi Elshinta jelas. Bukan bagian dari kekuasaan, melainkan penyampai informasi yang menjaga jarak.
Bertransformasi atau Mati
Dalam 26 tahun, banyak yang berubah. SDM lebih siap. Jurnalis Elshinta bersertifikasi wartawan. Distribusi konten tak lagi hanya lewat frekuensi FM, tetapi juga streaming, aplikasi, dan media sosial. Radio konvensional berevolusi menjadi multi-platform terintegrasi.
Namun menurut Krisanti, nilai dasarnya tetap sama, News and Talk yang menjunjung kredibilitas.
“Yang berubah adalah cara menyampaikan, bukan nilai yang kami pegang,” ujarnya.
Siapa yang bisa dipercaya?
Dulu orang meragukan radio tanpa lagu bisa hidup. Kini tantangannya berbeda. Di tengah arus informasi cepat, pertanyaannya bukan lagi apakah berita bisa dijual. Pertanyaannya, siapa yang bisa dipercaya?
Meski ada yang meramalkan radio akan redup, Elshinta sudah melewati masa-masa paling berat. Dengan kredibilitas dan pengalaman 26 tahun, radio ini yakin tetap relevan menghadapi era digital.
Bagi Krisanti, 26 tahun ini bukan sekadar perayaan usia, melainkan ujian relevansi.
“Relevansi bukan sekedar mengganti format lama, tapi bagaimana kita beradaptasi dengan perubahan,” katanya.
Dan di tengah disrupsi media, ia menegaskan satu hal yang terus dijaga sejak 1998. “Yang terpenting itu adalah kredibilitas,” tandasnya.
26 tahun Elshinta News and Talk
Perjalanan 26 tahun itu bukan sekadar soal waktu. Ini tentang menegakkan idealisme, membangun kepercayaan, dan belajar bersama pendengar. Dari kerusuhan 1998 hingga era digital, Elshinta terus menyesuaikan diri, menjadi suara yang diandalkan, tanpa kehilangan marwah News and Talk.
“Terima kasih kepada Elshinta masa lalu yang dengan keberanian, konsistensi, dan integritasnya telah menapaki jalan panjang selama 26 tahun,” ucap Krisanti, mengakhiri cerita perjalanan panjang Radio Elshinta.
-Elshinta for Indonesia-
Rama/Nandang


