Soal antrean BBM, DPR sebut pemicunya kepanikan bukan kelangkaan
DPR memastikan antrean di SPBU bukan akibat kelangkaan, melainkan kepanikan masyarakat di tengah isu kenaikan harga BBM.
Foto: Arie Dwi P/Radio Elshinta
Anggota Komisi VI DPR RI Andre Rosiade menilai antrean di sejumlah SPBU bukan disebabkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), melainkan dipicu kepanikan masyarakat.
Hal itu disampaikan Andre menyusul kekhawatiran publik terkait isu kenaikan harga BBM per 1 April 2026.
Ia menegaskan, pemerintah telah memastikan tidak ada kenaikan harga BBM serta menjamin ketersediaan stok di seluruh wilayah Indonesia.
“Kami dari Komisi 6 DPR RI mengapresiasi langkah pemerintah Presiden Prabowo yang mendengarkan aspirasi masyarakat dan berpihak kepada masyarakat dengan memastikan tidak adanya kenaikan harga BBM di 1 April,” ujar Andre.
Menurut Andre, kepastian tersebut telah disampaikan langsung oleh pemerintah melalui sejumlah pejabat terkait, sehingga diharapkan mampu meredam keresahan masyarakat.
Ia menjelaskan, antrean yang sempat terjadi lebih disebabkan oleh kekhawatiran berlebihan, bukan karena gangguan distribusi atau kekurangan pasokan.
“Jadi masyarakat tidak usah khawatir, tidak usah ngantri BBM di SPBU karena pertama, BBMnya tidak ada kenaikan dan yang kedua, stoknya aman,” ujarnya.
Andre menambahkan, kondisi ini berbeda dengan banyak negara lain yang telah menaikkan harga BBM akibat tekanan global, termasuk di kawasan Asia Tenggara.
Lebih lanjut, ia memastikan pemerintah bersama Pertamina telah melakukan koordinasi untuk menjaga pasokan tetap stabil.
Andre menyebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah, termasuk mencari sumber energi baru, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan BBM.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan agar distribusi tetap berjalan normal.
Komisi VI DPR RI, lanjut Andre, akan terus mengawal kebijakan energi nasional dan memastikan distribusi BBM berjalan lancar agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Arie Dwi Prasetyo/Rama


