Target 100 GW PLTS dinilai ambisius, Pakar: Kunci ada di eksekusi program

Pakar energi Fabby Tumiwa menilai rencana pembangunan PLTS 100 gigawatt berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, namun keberhasilannya sangat bergantung pada perencanaan dan implementasi di lapangan.

Update: 2026-03-07 00:10 GMT
Indomie

Rencana pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dinilai sebagai langkah ambisius dalam mendorong transisi energi nasional.

Ahli kebijakan energi sekaligus CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai target tersebut berpotensi memperkuat ketahanan energi Indonesia jika diikuti dengan perencanaan dan eksekusi yang tepat.

“Seratus gigawatt ini adalah visi yang cukup ambisius. Namun jika dilaksanakan dengan baik, ini bisa menjadi program energi terbarukan terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara,” kata Fabby dalam wawancara di Radio Elshinta, Jumat (6/3/2026).

Menurut Fabby, kebijakan tersebut muncul ketika Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil. Saat ini sekitar 85 persen pasokan energi nasional masih berasal dari batu bara, minyak, dan gas.

Ketergantungan itu dinilai membuat sistem energi nasional rentan terhadap dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi pasokan bahan bakar.

Fabby mengatakan pendekatan pembangunan PLTS yang didorong pemerintah tidak hanya berupa pembangkit listrik skala besar, tetapi juga pembangkit skala kecil yang tersebar di berbagai daerah, terutama di desa-desa.

Konsep ini dikenal sebagai distributed energy resources, yakni penyediaan sumber energi yang dibangun dekat dengan pusat kebutuhan listrik.

“Presiden ingin seluruh Indonesia bisa terlistriki. Karena itu pendekatannya membangun pembangkit skala kecil di desa-desa agar kebutuhan energi masyarakat terpenuhi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal,” ujarnya.

Namun Fabby mengingatkan tantangan utama program tersebut bukan pada targetnya, melainkan pada tahap implementasi.

Elshinta Peduli

Jika pembangunan dilakukan dalam skala besar, proyek yang harus dikelola mungkin hanya puluhan. Namun jika dilakukan dalam skala kecil di desa-desa, jumlah proyek dapat mencapai puluhan ribu.

“Kalau satu proyek pembangkit berkapasitas 1 gigawatt, mungkin hanya ada sekitar 100 proyek. Tetapi jika dibangun 1 megawatt per desa, jumlahnya bisa mencapai sekitar 80.000 proyek. Di situlah tantangan manajemen dan implementasinya,” jelas Fabby.

Ia juga menanggapi kekhawatiran mengenai ketergantungan PLTS pada cuaca. Menurutnya, hal tersebut dapat diatasi dengan teknologi penyimpanan energi seperti baterai serta penguatan sistem kelistrikan nasional.

“Dengan teknologi baterai, listrik dari PLTS dapat disimpan sehingga pasokan tetap stabil,” katanya.

Fabby menambahkan sejumlah negara telah berhasil mengintegrasikan energi surya dalam sistem kelistrikan mereka. Salah satunya adalah Australia yang memiliki jutaan rumah dengan panel surya atap.

“Di Australia ada lebih dari dua juta rumah menggunakan PLTS atap dan sistem kelistrikannya tetap berjalan baik,” ujarnya.

Fabby menilai rencana pembangunan PLTS 100 GW merupakan langkah strategis menuju transisi energi nasional. Namun keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada perencanaan kebijakan serta koordinasi pelaksanaan di lapangan.

“Yang terpenting bukan hanya membuat target atau membentuk satgas, tetapi bagaimana memastikan program ini benar-benar dieksekusi dengan baik,” kata dia.


Ayesha Julia Putri/Rama  

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News