Tradisi hantaran Lebaran Betawi simbol bakti dan kekayaan kuliner
Wali Kota Jakarta Timur Munjirin memberikan hantaran atau seserahan dalam rangkaian perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu (11/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza).
Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan tradisi pemberian hantaran atau seserahan dalam rangkaian perayaan Lebaran Betawi 2026 merupakan simbol bakti anak kepada orang tua sekaligus wujud pelestarian budaya khas Betawi yang kaya akan nilai kekeluargaan dan kuliner tradisional.
"Tradisi hantaran ini merupakan bentuk penghormatan sekaligus bagian dari ibadah sosial yang perlu terus dijaga," kata Fauzi dalam perayaan Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Sabtu.
Menurut dia, tradisi itu merupakan elemen penting yang harus terus dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya yang sarat nilai penghormatan dan kebersamaan. Dalam perayaan Lebaran Betawi, tradisi hantaran ditampilkan melalui iring-iringan perwakilan dari berbagai wilayah di Jakarta, dengan membawa rantang berisi makanan khas untuk diserahkan kepada pimpinan daerah.
Hantaran tersebut kemudian diserahkan kepada "orang tua" sebagai simbol penghormatan, disertai dengan momen silaturahmi, foto bersama, serta ramah tamah.
Dalam perayaan Lebaran Betawi 2026, kegiatan hantaran dipandu oleh dua pembawa acara yang menggambarkan suasana hangat dan penuh canda khas Betawi. Mereka satu per satu memanggil perwakilan wilayah untuk maju dan memperkenalkan hantaran yang dibawa.
Dari Jakarta Pusat, hantaran berupa nasi kebuli menjadi pembuka. Hidangan ini langsung mencuri perhatian karena aromanya yang khas dan menggugah selera. Pembawa acara bahkan berseloroh ingin mencicipi hidangan tersebut.
Kedua, Jakarta Utara yang menghadirkan variasi kuliner yang tak kalah menarik, mulai dari bebek oblok hingga aneka camilan tradisional, seperti biji ketapang, kembang goyang, kacang umpet, dan dodol Betawi. Ragam makanan ini mencerminkan kekayaan kuliner pesisir yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.
Dari Jakarta Barat, hidangan pindang bandeng dan gabus pucung turut meramaikan prosesi hantaran. Kedua menu ini dikenal sebagai makanan tradisional Betawi yang cukup jarang ditemui di luar acara adat, sehingga kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri.
Kemudian, Jakarta Selatan tampil dengan hidangan ayam kuning, pecak gurame, serta nasi goreng mengkudu. Kombinasi menu ini menunjukkan perpaduan cita rasa tradisional dengan sentuhan kuliner yang lebih modern dan sehat. Sementara itu, Jakarta Timur membawa nasi uduk Mak Lengket yang sudah dikenal luas sebagai kuliner legendaris. Tak hanya itu, roti buaya juga turut disertakan sebagai simbol kesetiaan dan kemakmuran dalam budaya Betawi.
Lalu, ada perwakilan dari Kepulauan Seribu yang rela menempuh perjalanan sejak dini hari demi mengikuti tradisi tersebut. Mereka membawa ikan bakar sambal beranyut dan udang penko, dua hidangan khas laut yang menjadi kebanggaan daerah kepulauan. Tak hanya makanan, prosesi hantaran juga diakhiri dengan penyerahan mushaf Al-Qur’an Betawi sebagai simbol nilai spiritual dan budaya yang tetap dijaga di tengah perkembangan zaman.
Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan dari yang muda kepada yang lebih tua, serta dari masyarakat kepada pemimpinnya. Fauzi menjelaskan tradisi hantaran mencerminkan nilai-nilai sosial yang telah lama hidup dalam masyarakat Betawi.
Hubungan yang terjalin melalui antar-antaran itu menggambarkan etika dan tata krama, mulai dari murid kepada guru, lurah kepada camat, hingga kepala daerah kepada gubernur. Lebih jauh, Fauzi menekankan hantaran tidak dapat dipisahkan dari filosofi kebersamaan dan gotong royong.
Makanan yang dibawa di dalam rantang itu pun menjadi simbol berbagi rezeki sekaligus mempererat hubungan antarwarga dan pemimpin. Fauzi mengingatkan agar tradisi itu tidak disalahartikan sebagai bentuk gratifikasi. Dia menilai pandangan tersebut muncul akibat kurangnya pemahaman terhadap nilai budaya lokal.
"Kalau antar-antaran dianggap gratifikasi, berarti tidak memahami adat istiadat Betawi," tegas Fauzi.
Oleh karena itu, dia berharap melalui perayaan Lebaran Betawi, masyarakat, khususnya generasi muda, dapat lebih mengenal dan memahami makna di balik tradisi hantaran. Keterlibatan aktif generasi penerus dinilai penting agar tradisi tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga terus hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Dengan pelestarian yang berkelanjutan, tradisi hantaran dalam rangkaian perayaan Lebaran Betawi diharapkan tetap menjadi identitas budaya yang memperkuat nilai hormat, kebersamaan, dan kearifan lokal masyarakat Betawi. Lebaran Betawi 2026 berlangsung pada 10-12 April dengan tema "Lebaran Betawi untuk Jakarta: Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global".
Kegiatan tersebut diawali dengan malam syukuran yang diisi pengajian, maulid, tahlilan, tausiah, dan doa bersama pada Jumat (10/4) pukul 18.30-21.30 WIB. Pada Sabtu, mulai pukul 08.00–23.00 WIB, diadakan berbagai atraksi budaya, antara lain ondel-ondel, tanjidor, silat, gambang kromong, serta kegiatan seremonial, silaturahmi akbar, dan hiburan rakyat, seperti lenong Betawi dan layar tancep.
Selanjutnya, pada hari terakhir, Minggu, 12 April, pada pukul 06.00-22.00 WIB, diisi dengan kegiatan santai dan interaktif, mulai dari senam bersama, permainan tradisional Betawi, dongeng rakyat, karnaval budaya, prosesi hantaran, sajian kuliner Betawi, hingga pertunjukan musik.
Masyarakat dapat menikmati aneka kuliner Betawi serta mengunjungi bazar produk lokal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).


