WHO apresiasi kepemimpinan Indonesia dalam One Health, kurangi risiko penyakit Zoonosis

Update: 2026-04-07 03:59 GMT
Indomie

Pada Hari Kesehatan Sedunia, World Health Organization (WHO) menyoroti kemajuan Indonesia dalam mengurangi risiko kesehatan dari penyakit zoonosis melalui penguatan pendekatan One Health.

Diketahui, One Health mengakui kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait erat dan harus ditangani bersama.

Dipimpin Pemerintah Indonesia dan didukung oleh WHO dan para mitra, negara ini telah memperluas upaya pencegahan, surveilans, dan respons bersama di berbagai sektor, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Senin (7/4/2026).

“Indonesia menunjukkan cara aksi multisektoral yang terkoordinasi dapat mengurangi risiko kita dari penyakit zoonosis,” kata Dr. N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia.

“Dengan kerja sama sektor kesehatan, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan, Indonesia memperkuat deteksi dini, meningkatkan respons, dan melindungi masyarakat dengan risiko tertinggi,” tambahnya.

Penyakit zoonosis adalah infeksi yang dapat menyebar antara hewan dan manusia, seringkali melalui kontak dekat atau lingkungan yang terkontaminasi. Secara global, lebih dari 60 persen penyakit menular yang diketahui dan hingga 75 persen penyakit baru berasal dari hewan.

Penyakit zoonosis memengaruhi lebih dari 2 miliar orang dan merenggut lebih dari 2 juta nyawa setiap tahunnya. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi peningkatan risiko zoonosis yang terkait dengan bencana terkait iklim, perubahan lingkungan, serta interaksi erat antara manusia, hewan, dan alam.

Upaya One Health Indonesia berfokus pada penyakit zoonosis prioritas seperti flu burung, leptospirosis, antraks, dan rabies. Pada tahun 2025, WHO mendukung uji coba surveilans terpadu flu burung berbasis pendekatan One Health di lima provinsi prioritas, dengan pasar unggas tradisional sebagai lokasi peringatan dini yang penting.

Elshinta Peduli

Untuk leptospirosis, peningkatan surveilans terintegrasi, penilaian risiko bersama, deteksi dini, pengobatan yang cepat, serta kesadaran masyarakat telah membantu kolaborasi multisektoral, memperkuat kesiapan sistem kesehatan, dan mengurangi kematian di daerah rawan banjir. Untuk mengurangi dampak antraks, WHO mendukung pelatihan petugas kesehatan garda terdepan dan pemantauan kejadian akut.

Sementara itu, untuk rabies, WHO terus mendukung surveilans, manajemen kasus, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.

Pengalaman Indonesia mencerminkan perhatian regional dan global yang lebih tinggi terhadap One Health, karena negara-negara menghadapi makin tingginya dampak kesehatan akibat perubahan iklim, gangguan lingkungan, dan penyakit menular baru. Tantangan bersama ini menyoroti perlunya kolaborasi berbasis sains yang menghubungkan tindakan lokal dengan solusi regional dan global.

Pemerintah Indonesia terus memimpin dalam memajukan One Health di ASEAN dan sekitarnya. Komitmen ini akan disoroti pada One Health Summit, yang akan mempertemukan para kepala negara dan menteri untuk mendorong dukungan politik tingkat tinggi dan menerjemahkan komitmen menjadi tindakan terkoordinasi untuk melindungi kesehatan bagi semua.

Setelah pertemuan tersebut, dilaksanakan pula Global Forum of WHO Collaborating Centres yang menekankan pentingnya investasi dan kemitraan berkelanjutan pada sains dan kedokteran secara keseluruhan.

Forum ini merayakan jaringan global WHO yang terdiri dari lebih dari 800 Pusat Kolaborasi, termasuk dua di Indonesia untuk keperawatan dan kebidanan serta pencegahan ketulian dan gangguan pendengaran.

Lembaga-lembaga ini melakukan penelitian dan kegiatan penting yang membantu menghasilkan penemuan ilmiah penyelamat nyawa, mendukung negara-negara untuk mendeteksi wabah penyakit lebih awal, memperkuat sistem laboratorium, meningkatkan keamanan pangan, serta membangun tenaga kerja kesehatan yang lebih siap.

Vivi Trisnavia/Ter

Elshinta Peduli

Similar News