Ekonom INDEF: Kontribusi industri sawit capai 6,47 persen dan serap 18 juta tenaga kerja

Kontribusi tersebut berasal dari sektor perkebunan hingga industri pengolahan, seperti minyak goreng dan produk turunan lainnya

Update: 2026-04-01 04:50 GMT

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad

Indomie

Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai salah satu sektor paling strategis dalam menopang perekonomian nasional. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menyebut kontribusi sawit terhadap ekonomi Indonesia sangat signifikan, baik dari sisi produk domestik bruto (PDB), ekspor, hingga penyerapan tenaga kerja.

Dalam wawancara di Radio Elshinta, Senin (30/3), Tauhid menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024–2025, kontribusi industri sawit, termasuk crude palm oil (CPO) dan turunannya, mencapai sekitar 6,47 persen dari total perekonomian nasional.

“Kontribusi industri sawit mencapai sekitar 6,47 persen dari perekonomian nasional ini angka yang sangat besar dan menunjukkan betapa strategisnya sektor ini bagi ekonomi Indonesia,” ujar Tauhid.

Menurutnya, kontribusi tersebut berasal dari sektor perkebunan hingga industri pengolahan, seperti minyak goreng dan produk turunan lainnya. Bahkan, porsi terbesar justru datang dari sektor industri hilir yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.

Selain itu, dari sisi penerimaan negara, industri sawit juga memberikan kontribusi signifikan melalui bea keluar dan pungutan ekspor yang nilainya mencapai hampir Rp30 triliun pada 2024.

Dari sisi perdagangan internasional, Tauhid menegaskan bahwa sawit merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.

“Sepanjang 2025, ekspor sawit dan turunannya mencapai sekitar 24,42 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu komoditas utama penopang devisa negara,” jelasnya.

Elshinta Peduli

Ia menambahkan, posisi sawit dalam struktur ekspor nasional berada di peringkat ketiga setelah besi baja dan batu bara. Bahkan, menurutnya, tanpa ekspor sawit, neraca perdagangan Indonesia berpotensi mengalami defisit.

“Jika Indonesia berhenti mengekspor sawit, neraca perdagangan kita berpotensi langsung defisit ini menunjukkan sawit tidak bisa dipisahkan dari struktur ekonomi nasional,” tegas Tauhid.

Tak hanya berdampak pada ekonomi makro, sektor sawit juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja. Tauhid menyebutkan, jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam industri ini sangat besar, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Industri sawit menyerap hampir 18 juta tenaga kerja, atau sekitar 9–10 persen dari total angkatan kerja nasional ini dampak sosial-ekonomi yang sangat signifikan,” ungkapnya.

Ke depan, Tauhid menilai potensi industri sawit masih dapat terus dikembangkan, terutama melalui peningkatan produktivitas lahan, penyelesaian persoalan legalitas lahan, serta penguatan hilirisasi produk turunan seperti oleokimia dan pangan olahan.

Menurutnya, optimalisasi sektor hilir akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News