Harga kedelai meroket, perajin tempe perkecil ukuran
Perang yang terjadi di Timur Tengah berdampak luas utamanya bagi perajin tempe di Kota Malang Jawa Timur.
Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com.
Perang yang terjadi di Timur Tengah berdampak luas utamanya bagi perajin tempe di Kota Malang Jawa Timur.
Dampak perang berimbas pada kenaikan harga kedelai yang jadi bahan baku utama tempe.
“Naiknya tidak harian lagi tapi dalam hitungan menit,” ujar Arifianto salah satu karyawan pada industri tempe di sentra produksi tempe Sanan Kota Malang Jawa Timur.
Diungkapkan Afrianto, harga kedelai rata-rata naik sejak seminggu setelah perang.
“Tadi pagi harga kedelai masih Rp9.600, saat ini harganya sudah Rp10.500 perkilo, padahal rata-rata untuk satu kali produksi membutuhkan kedelai antara 1-2 ton itu untuk yang dijual ke pasar,” katanya.
Karena itulah perajin terpaksa memperkecil ukuran dan ketebalan tempe.
"jika biasanya 1 cm untuk ukuran maka dikurangi ½ cm termasuk ketebalan tempe dengan harga yang tetap dan kecilnya ukuran tempe telah diberitahukan ke konsumen kalau untuk menaikkan harga jual jelas tidak mungkin apalagi di sulitnya kondisi saat ini. Dan bahan baku tempe bersumber dari kedelai yang masih import,“ jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Selasa (7/4).

