Kinerja positif 2025, saham BBCA berpotensi rebound

Fundamental kuat dan valuasi menarik, BBCA dinilai berpeluang menguat kembali di 2026.

Update: 2026-04-13 09:01 GMT

Elshinta/ ADP

Indomie

Kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025 dinilai menjadi faktor utama yang berpotensi mendorong penguatan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ke depan. Analis pasar modal melihat fundamental kuat perseroan tetap terjaga meski harga saham sempat mengalami tekanan sejak awal 2026.

Berdasarkan catatan, BBCA membukukan laba bersih sebesar Rp57,5 triliun pada 2025, meningkat 4,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp54,8 triliun. Kinerja ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global.

Namun demikian, saham BBCA tercatat mengalami penurunan hingga 19 persen sejak awal tahun 2026. Pergerakan ini sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 15,79 persen secara year to date.

Meski harga saham tertekan, sejumlah analis menilai kondisi tersebut justru mencerminkan anomali pasar. Dengan fundamental yang kuat, BBCA dinilai berada dalam posisi undervalued yang jarang terjadi untuk saham kategori unggulan.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menilai, kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor untuk masuk ke saham BBCA di harga yang relatif rendah.

"Ini adalah fenomena undervalued yang sangat langka untuk saham sekelas kasta tertinggi (blue chip super). Mengambil BBCA di harga di bawah Rp7.000 ibarat Anda memungut Mercy di showroom dengan harga Avanza," ujarnya.

Ia menjelaskan, secara historis BBCA dikenal memiliki valuasi premium dengan rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 4 hingga 5 kali. Namun, tekanan pasar global dan rotasi sektor membuat harga sahamnya terkoreksi cukup dalam.

Elshinta Peduli

Menurutnya, ketika kondisi pasar mulai stabil, harga saham BBCA berpotensi kembali ke level normalnya dengan pergerakan yang lebih cepat.

"Orang bijak mengumpulkan emas saat harganya sedang jatuh ke lumpur, bukan saat semua orang sedang antre membelinya di toko," katanya.

Selain itu, investor juga diminta mencermati laporan kinerja kuartal I 2026 yang akan segera dirilis. Dengan tren efisiensi dan pertumbuhan kredit yang tetap terjaga, kinerja BBCA diproyeksi kembali menunjukkan hasil positif.

Analis menilai, momentum tersebut berpotensi menarik kembali minat investor institusi, sehingga mendorong kenaikan harga saham dalam waktu mendatang.

Dengan fundamental yang dinilai kuat, likuiditas tinggi, serta basis nasabah yang loyal, BBCA masih menjadi salah satu saham unggulan di sektor perbankan yang layak diperhatikan investor.
(Arie Dwi Prasetyo)

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News