Optimalkan potensi ZIS, Indonesia dorong transformasi digital di Global WaqfTech 2026
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mewakili Indonesia mendorong penguatan sistem terpadu antara zakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui transformasi digital dalam fundraising guna meningkatkan penghimpunan, serta memperluas dampak sosial bagi umat di tingkat global.
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mewakili Indonesia mendorong penguatan sistem terpadu antara zakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui transformasi digital dalam fundraising guna meningkatkan penghimpunan, serta memperluas dampak sosial bagi umat di tingkat global.
Hal tersebut disampaikan Deputi I Bidang Pengumpulan H. M. Arifin Purwakananta, S.IKom., M.I.Kom., CWC., CFRM., dalam forum Global WaqfTech Conference and Exhibition di Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (12/4/2026). Dalam forum internasional tersebut, Indonesia melalui BAZNAS menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem zakat dan wakaf berbasis teknologi.
Deputi I Bidang Pengumpulan H. M. Arifin Purwakananta, S.IKom., M.I.Kom., CWC., CFRM., mengatakan, penguatan fundraising digital menjadi langkah strategis untuk meningkatkan penghimpunan zakat dan wakaf di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Indonesia percaya bahwa penguatan fundraising digital dapat menjadi solusi dalam meningkatkan penghimpunan zakat dan wakaf sekaligus memperluas dampak sosialnya, khususnya untuk mendukung berbagai program pemberdayaan, termasuk keberlanjutan pendidikan Islam,” ujar Arifin.
Sejalan dengan hal tersebut, Arifin menjelaskan, transformasi digital yang dilakukan mencakup pemanfaatan teknologi digital, penguatan sistem transparansi dan pelaporan, serta peningkatan pengalaman donatur. “Langkah ini diharapkan mampu membangun kepercayaan publik sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia juga menawarkan model integrasi antara zakat dan wakaf sebagai dua instrumen yang saling melengkapi dalam pembangunan sosial. “Dengan demikian, keduanya dapat berjalan beriringan dalam menjawab berbagai tantangan sosial,” ujarnya.
Ia menjelaskan, zakat berperan sebagai solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sedangkan wakaf dikembangkan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
“Dalam implementasinya, dana wakaf produktif diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dan penguatan kelembagaan pendidikan, sedangkan zakat difokuskan untuk memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu,” jelasnya.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari peserta forum. Direktur Awqaf Africa, Ibrahim Abdul Mugis, menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia dan menilai pemikiran yang disampaikan BAZNAS memberikan nilai tambah dalam pengembangan wakaf digital global.
Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam konferensi ini, di antaranya Dr. Noor Suhaida Kasri selaku Deputy Director sekaligus Senior Research Fellow di ISRA Institute, INCEIF University, Dr. Muhsin Nor Paizin dari Akademi Zakat PPZ MAIWP, Dr. Reza Beikzadeh sebagai Inter AI Scientist and AI Specialist Digital Carbon Ledger, serta Prof. Emeritus Dr. Barjoyai Bardai yang menjabat sebagai Provost and Dean Center of Postgraduate Studies di Malaysia University of Science and Technology (MUST).
Forum Global WaqfTech Conference and Exhibition yang dipimpin Direktur Awqaf Africa, Ibrahim Abdul Mugis ini menghadirkan regulator, lembaga pengelola zakat dan wakaf, akademisi, dan pemimpin teknologi dari berbagai belahan dunia, yang dilaksanakan secara hybrid pada 10 hingga 12 April 2026. Forum ini bertujuan membangun sistem wakaf berbasis digital yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan.


