Outlook Ekonomi 2026: Hilirisasi diuji proteksionisme AS, Pemerintah lakukan apa?

Update: 2026-01-07 11:24 GMT

Hilirisasi pertambangan

Elshinta Peduli

Memasuki 2026, perekonomian Indonesia berada di titik krusial akibat perlambatan ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan kembalinya proteksionisme Amerika Serikat. Tekanan eksternal itu diperberat tantangan domestik seperti disrupsi digital, ekonomi biaya tinggi, serta ancaman terhadap daya beli kelas menengah.

Founder Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai proteksionisme AS berpotensi menekan ekspor dan mengganggu agenda hilirisasi nasional. Ia menyebut dorongan ekspor bijih mentah sebagai ancaman serius bagi industri hilir.

“Ini upaya membalikkan hilirisasi yang jelas merugikan Indonesia,” ujar Bima dalam Elshinta News and Talk edisi pagi, Rabu (7/1/2026).

Menurutnya, Indonesia perlu memperluas kemitraan dagang ke negara seperti India, Jepang, dan Timur Tengah.

Sementara itu, fungsionaris Kadin Muhammad Siroj menilai Indonesia relatif tangguh karena 90 persen perdagangan masih berada di kawasan regional. Ia menyebut pemerintah kini lebih siap menghadapi risiko geopolitik dan perang dagang.

Elshinta Peduli

“Indonesia hari ini lebih terukur secara strategi dan mentalitas,” kata Sirot kepada News Anchor Farma Dinata.

Namun, ia mengingatkan disrupsi AI berpotensi menggeser tenaga kerja dan harus diantisipasi serius.

Dari sisi fiskal, Bima memperkirakan kebijakan ekonomi 2026 akan cenderung ekspansif untuk menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Ia menilai penurunan tarif PPN justru berpotensi meningkatkan penerimaan negara melalui peningkatan aktivitas ekonomi.

Penulis: Steffi Anastasia/Mgg/Ter

Elshinta Peduli

Similar News