RI–Tiongkok perkuat kerja sama ekonomi, bidik pasar durian dan kelapa tembus Rp100 T
Mentrans M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menerima kunjungan Dubes Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Senin (13/4/2026)
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menerima kunjungan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Senin (13/4/2026). Pertemuan itu dengan pembahasan utama mengarah pada penguatan kerja sama ekonomi, khususnya pengentasan kemiskinan dan pengembangan komoditas unggulan.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah Tiongkok mengundang Kementerian Transmigrasi mengirimkan 37 orang tenaga ahli ke Tiongkok dalam waktu dekat. Delegasi tersebut terdiri dari pegawai kementerian, akademisi dari 10 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, serta perwakilan transmigran.
“Kami akan mengirim para ahli untuk mempelajari bagaimana Tiongkok berhasil menekan kemiskinan. Ini penting untuk diterapkan di kawasan transmigrasi di Indonesia,” ujar Iftitah usai mengadakan pertemuan dengan duta besar Tiongkok, di Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Senin siang.
Ia menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah mempercepat pembangunan ekonomi di 154 kawasan transmigrasi, melalui pendekatan industrialisasi, hilirisasi, dan penciptaan lapangan kerja.
Selain penguatan kapasitas SDM, kerja sama juga diarahkan pada pengembangan ekspor komoditas pertanian. Dua komoditas yang menjadi fokus adalah durian dan kelapa, yang memiliki permintaan besar di pasar Tiongkok.
Menurut Iftitah, kebutuhan durian di Tiongkok mencapai sekitar Rp120 triliun per tahun, sementara kelapa mencapai Rp110 triliun per tahun. Khusus kelapa, kebutuhan mencapai 4 miliar butir per tahun, namun produksi domestik Tiongkok baru mampu memenuhi sekitar 1 miliar butir, sehingga terdapat peluang pasar yang signifikan bagi Indonesia.
“Kebutuhan durian di Tiongkok per tahun sekitar Rp120 triliun, Kalau kelapa sekitar Rp110 triliun per tahun kebutuhannya. Sekitar 4 miliar butir kelapa, sementara Tiongkok baru bisa memenuhi 1 miliar butir, jadi masih ada gap sekitar 3 miliar butir, Kami memiliki lahan dan tenaga kerja di kawasan transmigrasi yang bisa mendukung kebutuhan tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, salah satu sentra produksi durian terbesar berada di kawasan transmigrasi di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang dinilai berpotensi menjadi pemasok utama ke pasar Tiongkok.
Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong menegaskan bahwa kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok akan difokuskan pada sejumlah sektor strategis, seperti pertanian, industrialisasi, infrastruktur, dan pengentasan kemiskinan.
Ia juga menilai pertukaran keahlian menjadi kunci penting dalam pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia.
“Kami menyambut baik rencana kunjungan para ahli dan transmigran ke Tiongkok untuk melihat langsung pengalaman kami, sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama,” ujar Wang.
Menurut dia, durian dan kelapa menjadi dua komoditas utama yang berpotensi besar dalam meningkatkan perdagangan kedua negara.
“Kami melihat adanya rencana jangka panjang dari Kementerian Transmigrasi dalam pengembangan pertanian dan industrialisasi, dan kami siap memberikan dukungan untuk itu,” katanya.
Menutup keterangannya, Mentrans mengatakan kerjasama RI-Tiongkok tidak akan berpengaruh kepada posisi Negara di tengah dinamika geopolitik global, ia mengatakan penguatan kerjasama dengan berbagai negara dari sisi kemanusiaan dapat dipelajari dari semua negara.
"Insya Allah ini juga tidak akan ada pengaruhnya yang besar secara negatif. Justru secara positif kita kan selalu ya kami sendiri misalkan, selalu kita ini beralasan kenapa banyak kemiskinan karena kita penduduknya besar, 300 juta. Padahal Tiongkok 1,4 miliar tapi hampir zero poverty, hampir tidak ada kemiskinan. Kenapa kita tidak belajar dari Tiongkok? Saya yakin untuk sisi kemanusiaan kita bisa belajar di mana saja,” pungkas Iftitah.
Awaluddin Marifatullah/Ter


