Saksi Nicke Widyawati sebut PIS melesat di era Yoki Firnandi
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan PT Pertamina International Shipping (PIS) mengalami perkembangan signifikan di bawah kepemimpinan Yoki Firnandi.
Sumber foto: Supriyarto Rudatin/elshinta.com.
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan PT Pertamina International Shipping (PIS) mengalami perkembangan signifikan di bawah kepemimpinan Yoki Firnandi. Pertumbuhan tersebut, menurut Nicke, turut memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kinerja keuangan Pertamina secara keseluruhan.
Pernyataan itu disampaikan Nicke saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam persidangan perkara dugaan korupsi tata kelola migas di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Nicke menjelaskan, pembentukan subholding Pertamina, termasuk PIS, sejak awal ditujukan untuk membuka nilai perusahaan (unlocking value), bukan untuk mencari keuntungan dari penugasan pelayanan publik atau public service obligation (PSO).
“Jangan mencari keuntungan dari public service obligation, karena itu untuk masyarakat,” ujar Nicke di hadapan majelis hakim.
Ia mengungkapkan, selama menjalankan peran PSO, PIS melayani rute domestik dan tidak diperkenankan menetapkan tarif angkutan yang tinggi. Hal itu dilakukan untuk mencegah peningkatan beban subsidi dan kompensasi yang harus ditanggung negara.
“PIS tidak boleh men-charge freight cost yang mahal untuk PSO ini, karena nanti akan meningkatkan subsidi dan kompensasi,” katanya.
Meski demikian, Nicke menegaskan sebagai badan usaha, Pertamina tetap memiliki mandat dari pemegang saham untuk terus bertumbuh. Karena itu, subholding seperti PIS didorong melakukan pertumbuhan anorganik melalui ekspansi bisnis komersial yang tidak membebani APBN.
Menurut Nicke, pasar domestik bukan ditujukan sebagai sumber keuntungan utama, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat ketangguhan operasional perusahaan.
“Pasar domestik itu hanya for strengthening your muscle. Jangan cari untung. Itu untuk menguji kehandalan dan ketangguhan,” ujarnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Supriyarto Rudatin, Kamis (22/1).
Setelah fondasi operasional dinilai kuat, PIS kemudian diarahkan berekspansi ke pasar internasional. Di pasar global, PIS diperbolehkan meraih keuntungan karena aktivitas tersebut tidak terkait dengan penugasan negara.
“Kalau sudah kuat, uji itu di pasar luar. Kalau di luar, mengambil keuntungan boleh karena tidak ada kaitannya dengan APBN,” kata Nicke.
Ia menyebutkan, pada periode kepemimpinan Yoki Firnandi, ekspansi PIS ke pasar internasional berkembang pesat dan dijalankan dengan baik. Dampaknya tercermin pada lonjakan kinerja keuangan PIS.
Nicke pun membenarkan bahwa laba PIS meningkat hingga beberapa kali lipat dan mencapai sekitar Rp9 triliun. “Iya, karena semua subholding itu mengetahui,” ucapnya.
Nicke mengaitkan capaian tersebut dengan kinerja Pertamina secara menyeluruh. Ia menyebut tahun 2023 sebagai salah satu periode terbaik bagi Pertamina, baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih.
“Semuanya berkontribusi,” kata Nicke.
Ia menambahkan, kinerja Pertamina tidak hanya diukur dari keuntungan, tetapi juga dari keberhasilan menjaga pasokan energi nasional, meminimalkan kelangkaan BBM, serta meningkatkan kontribusi fiskal kepada negara.
“Kalau bicara kinerja Pertamina, tidak bisa dilihat dari satu sektor saja. Ada tiga indikator, dan ketika subholding terbentuk, ketiganya sesuai dengan ekspektasi pemerintah,” ujarnya.


