MBG turunkan gangguan konsentrasi belajar, dampak signifikan di Indonesia Timur

Update: 2026-02-18 16:20 GMT

Mendikdasmen Abdul Mu'ti bersama para siswa penerima manfaat MBG

Elshinta Peduli


Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti berdampak positif terhadap peningkatan fokus belajar murid di kelas. Temuan ini disampaikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter berdasarkan hasil survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), khususnya pada pembiasaan makan sehat dan bergizi.

Evaluasi dilakukan pada tahap baseline (Mei–Juni 2025) dan endline (November–Desember 2025) dengan melibatkan 1.203.309 responden murid secara nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata penurunan gangguan belajar akibat rasa lapar sebesar 2,37 poin persentase lebih tinggi dibandingkan sekolah yang belum menerima program.

Di wilayah Indonesia Timur, dampaknya lebih signifikan. Sekolah penerima MBG mencatatkan penurunan gangguan konsentrasi akibat lapar hingga 14,85 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan MBG, demikian dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Rabu (18/2/2026).

Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi gizi tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar murid, tetapi juga meningkatkan kesiapan mereka dalam mengikuti pembelajaran. Di wilayah dengan tingkat kerentanan gizi yang lebih tinggi, program ini menjadi instrumen penting untuk mengurangi kesenjangan kesempatan belajar.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan bahwa MBG merupakan bagian dari strategi pembangunan manusia jangka panjang.

“Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto adalah investasi strategis untuk menyiapkan generasi Indonesia 2045. Kita memastikan anak-anak yang hari ini berada di bangku PAUD hingga SMA tumbuh sehat, cerdas, dan kuat secara fisik maupun mental,” ujarnya.

Elshinta Peduli

Kepala Pusat Penguatan Karakter Rusprita Putri Utami menjelaskan bahwa survei dilakukan menggunakan pendekatan systematic sampling untuk memastikan representativitas dan validitas data.

“Sekolah pelaksana MBG dipilih secara acak dengan memastikan memiliki data awal dan akhir yang memadai. Kemudian dipadankan dengan sekolah yang belum melaksanakan MBG dengan karakteristik yang relatif sama, sehingga hasilnya dapat dibandingkan secara objektif,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan ini memperkuat akurasi rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari evaluasi. Dampak program juga dirasakan langsung oleh satuan pendidikan. Kepala SD Negeri 24 Rufei, Kota Sorong, Sientje Martentji Ajomi, menyebutkan adanya perubahan nyata pada perilaku belajar murid.

“Kami melihat perubahan besar dalam semangat belajar mereka. Anak-anak lebih fokus di kelas, lebih aktif bertanya, dan lebih ceria sepanjang hari. Kami berharap program ini terus berlanjut,” ujarnya.

Selain peningkatan fokus belajar, MBG juga mendorong pembiasaan perilaku hidup bersih melalui praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Implementasi program dilengkapi dengan Buku Pedoman Pendidikan Karakter dalam Program MBG serta Modul Edukasi Gizi sebagai panduan bagi sekolah dalam menanamkan nilai dan kebiasaan hidup sehat.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi utama tumbuh kembang anak. Program MBG dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Dengan memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai di sekolah, pemerintah tidak hanya menjawab kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat fondasi generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkarakter. (Roh/Ter)

Elshinta Peduli

Similar News