Hidayat Arsani: Cheng Beng simbol penghormatan

Gubernur Babel nilai tradisi Cheng Beng perkuat nilai hormat, kebersamaan, dan toleransi

Update: 2026-04-05 16:30 GMT

Antara

Indomie

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menilai tradisi Cheng Beng sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dalam masyarakat.

Menurutnya, Cheng Beng bukan sekadar tradisi budaya dan keagamaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur seperti penghormatan, kepedulian sosial, dan ikatan kekeluargaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi Cheng Beng sendiri merupakan ritual pembersihan makam yang dilakukan oleh komunitas Tionghoa setiap tahun. Kegiatan ini biasanya diawali dua pekan sebelum puncak perayaan pada 4 atau 5 April.

Pada momen tersebut, keluarga dari berbagai daerah bahkan luar negeri pulang untuk berziarah, membersihkan makam, serta mendoakan leluhur dan anggota keluarga yang telah wafat.

“Ini adalah cara kita mengenang jasa, doa, dan kasih sayang para pendahulu,” ujar Hidayat.

Ia menambahkan bahwa tradisi ini juga mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik, menghargai sejarah keluarga, serta mempererat tali persaudaraan antaranggota masyarakat.

Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, turut mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam perayaan tersebut.

Ia bahkan berharap kawasan pemakaman Sentosa, yang dikenal sebagai salah satu kompleks pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.

Sementara itu, anggota legislatif Rudianto Tjen menilai Cheng Beng juga menjadi momentum memperkuat toleransi dan harmoni antarumat beragama.

Ia menegaskan pentingnya pemerintah memberikan perhatian yang setara terhadap berbagai perayaan keagamaan, termasuk Maulid Nabi dan Isra Mi’raj, sebagai wujud keberagaman yang harmonis.

Tradisi Cheng Beng di Bangka Belitung diharapkan terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya sekaligus perekat sosial masyarakat.

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News