RS EMC Sentul gelar edukasi kesehatan, peringati Hari Ginjal dan Hari Tuberkulosis Sedunia
Memperingati Hari Ginjal Sedunia dan Hari Tuberkulosis Sedunia, RS EMC Sentul hari ini menggelar kegiatan Health Talk yang menghadirkan edukasi kesehatan dari para dokter spesialis. Diketahui Hari GInjal sedunia diperingati setiap tanggal 13 Maret dan Hari Tuberkulosis setiap 24 Maret.
Acara yang digelar pada bulan Ramadan ini juga dirangkai dengan kegiatan buka puasa bersama. Inilah momen kebersamaan antara manajemen rumah sakit, tenaga medis, pasien, rekan media dan undangan yang hadir.
Sesuai dengan temanya, acara ini menghadirkan pembicara ahli dari dua bidang spesialis yaitu: dr. Tessa Oktaramdani, Sp.PD, Subsp. G.H (K), FINASIM (Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Ginjal Hipertensi). Tessa membahas pentingnya menjaga kesehatan ginjal serta deteksi dini penyakit ginjal kronis dan akut.
Pembicara lainnya dr. Herman, Sp.P, FISR (Spesialis Paru dan Pernapasan), yang memberikan edukasi mengenai tuberkulosis (TBC), termasuk upaya pencegahan, deteksi dini, dan pentingnya kepatuhan dalam pengobatan.
Dalam sambutannya, Presiden Direktur PT Unggul Pratama Medika dan Direktur RS EMC Sentul, dr. G.A. Kusmiati, MARS, FISQua menyampaikan bahwa kegiatan edukasi seperti ini merupakan bagian komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kronis yang masih banyak ditemukan di Indonesia.
“Meskipun fungsi ginjal terbatas, hidup bisa tetap berkualitas. Tuberkulosis? Tidak perlu khawatir, bisa diobati dan sembuh total”, ujarnya dikutip dari keterangan tertulis yang diterima, Seni (16/3/2026).
“Kami berharap kegiatan Health Talk ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini penyakit ginjal serta tuberkulosis. Melalui edukasi yang tepat dan dukungan bersama, kita dapat meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan,” tambahnya.
Dalam pemaparan sesi pertama yang membahas kesehatan ginjal, dr. Tessa Oktaramdani, Sp.PD, Subsp. G.H (K), FINASIM menekankan bahwa penyakit ginjal kronis seringkali tidak menunjukan gejala pada tahap awal.
Banyak pasien baru terdiagnosis ketika kondisi sudah memasuki tahap lanjut dan memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis (HD) atau yang lebih dikenal awam dengan cuci darah.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dengan informasi yang tepat dan pola hidup sehat, kita dapat mengurangi risiko penyakit ginjal”, tegasnya.
Sementara itu, dr. Herman, Sp.P, FISR di sesi kedua menjelaskan bahwa tuberkulosis masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.
“Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang dapat menular melalui udara. Namun dengan deteksi dini dan pengobatan yang teratur hingga tuntas, TBC sebenarnya dapat disembuhkan,” katanya.
Ia pun menambahkan edukasi kepada masyarakat sangat penting agar stigma terhadap pasien TBC berkurang dan mereka mau menjalani pengobatan secara disiplin.
Menariknya, acara ini juga menghadirkan pasien-pasien penyakit ginjal kronis yang telah menjalani hemodialisis (HD) di RS EMC Sentul untuk berbagi pengalaman dan memberikan testimonial mengenai perjalanan mereka menjalani terapi serta pentingnya menjaga kualitas hidup.
Pengalaman tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi dan dukungan bagi pasien lain serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga Kesehatan ginjal sejak dini.
Selain edukasi dan diskusi interaktif melalui tanya-jawab, kegiatan ini juga menj menjadi wadah silaturahmi melalui rangkaian buka puasa bersama yang diikuti oleh dokter, tenaga medis, pasien, rekan media dan undangan.
Melalui kegiatan ini, RS EMC Sentul berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan, deteksi dini, serta pengelolaan penyakit ginjal dan tuberkulosis, sehingga kualitas kesehatan masyarakat dapat terus meningkat. (Ter)


