Warga Airlimau gotong royong gelar tradisi Ceriak Kampung
Warga Desa Airlimau, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bergotong royong menggelar tradisi "Ceriak Kampung" sebagai ungkapan rasa syukur usai panen raya.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Warga Desa Airlimau, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bergotong royong menggelar tradisi "Ceriak Kampung" sebagai ungkapan rasa syukur usai panen raya.
"Selain bentuk syukur warga tani atas hasil panen tahun ini, kegiatan ini juga bentuk permohonan kepada Yang Kuasa untuk keselamatan dan kelimpahan rezeki agar hasil panen tahun berikutnya semakin baik," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Muhammad Ferhad Irvan di Mentok, Senin.
Menurut dia, tradisi "Ceriak" dilaksanakan warga di beberapa desa di Bangka Barat, bahkan ada beberapa kelompok warga yang menggelar tradisi ini dalam lingkup lebih kecil, atau disebut kampung.
"Tradisi ini biasanya dilaksanakan warga adat setelah warga panen raya, sebagai bentuk syukur dan upaya tolak bala," katanya.
Tradisi "Ceriak Kampung" yang diadakan di Desa Air Limau dilaksanakan di rumah Ketua Adat Desa Air Limau, Rozali yang merupakan generasi keempat penerus warisan tradisi "Ceriak Kampung" Desa Air Limau.
Acara dihadiri puluhan warga sekitar dari segala kalangan usia yang berkumpul bersama Ketua Adat dan beberapa tokoh desa.
Warga bergotong-royong membawa syarat (sesaji) dari hasil bumi, terutama beras hasil panen padi ladang, yang diserahkan kepada Ketua Adat sebagai bagian dari ritual "Ceriak Kampung".
Prosesi dimulai sore hari, pada hari ke-14 setelah panen raya. Prosesi ritual diawali dengan pembacaan doa oleh Ketua Adat. Selama ritual ini, warga telah menyiapkan beragam sesaji yang kemudian dibawa ke dalam hutan desa.
Ritual di dalam hutan desa berlanjut dengan pembacaan doa ketupat lepas dan "taber" (memercik air menggunakan daun kepada warga yang hadir satu per satu), dan ditutup dengan makan bersama dengan hidangan bubur beras.
Kepala Desa Air Limau Mexsi Diansyah mengatakan kegiatan ritual adat ini sudah dilaksanakan turun temurun dan masih tetap dilestarikan hingga saat ini, karena memiliki nilai positif dan kearifan lokal yang dapat diwariskan ke generasi berikut.
"Sejak nenek-kakek kita hingga hari ini, kita masih tetap melestarikan kegiatan "Ceriak Kampung" ini, menjaga tradisi adat istiadat," katanya.
Menurut dia, tradisi ini memiliki arti dan nilai untuk saling menjaga, baik menjaga hubungan baik antarwarga maupun hubungan antara manusia dengan alam dan lingkungan tempat tinggal.
"Kami terus berupaya agar tradisi seperti ini dilindungi dan dilestarikan karena memang memiliki nilai positif, terutama dalam membangun hubungan sesama manusia, gotong royong dan permohonan bersama untuk dijauhkan dari hal-hal buruk," katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah mengatakan, warga berpartisipasi aktif melaksanakan tradisi warisan leluhur.
"Dalam setahun banyak sekali acara-acara tradisi dan budaya yang diselenggarakan warga, meskipun tidak semua bisa difasilitasi pemerintah, namun mereka secara swadaya menggelar tradisi seperti ini," katanya.
Menurut dia, tradisi tersebut terlaksana karena warga sadar makna dan nilai luhur yang terkandung di dalam kegiatan tersebut. Bahkan, mereka juga antusias menghadiri dan mengikuti prosesi yang akhirnya menjaga tradisi tetap lestari.
"Kami mengapresiasi karena peran masyarakat ikut melestarikan budaya yang ada, ini merupakan aset kearifan lokal adat budaya memang patut dilindungi dan kita lestarikan bersama," katanya.


