Topeng kesuksesan dan rapuhnya integrutas di film ` Penerbangan Terakhir `
Film Penerbangan Terakhir menguliti ambisi, gengsi, dan keruntuhan moral di balik seragam bergengsi seorang kapten pilot.
Dalam tatanan masyarakat modern, kesuksesan kerap dipresentasikan sebagai garis lurus yang kaku. Sejak kecil, individu dijejali narasi bahwa pendidikan tinggi akan berbanding lurus dengan kemapanan, dan kemapanan dianggap sebagai jaminan mutlak kebahagiaan serta kehormatan.
Film “Penerbangan Terakhir” karya Benni Setiawan meruntuhkan konstruksi berpikir tersebut. Melalui karakter utama Deva Angkasa (Jerome Kurnia), film ini mengajak penonton merenungi sejauh mana seragam dan jabatan mampu menutupi rapuhnya integritas seseorang.
Arrival Fallacy dan Ambisi yang Menipu
Film ini menyoroti fenomena psikologis bernama arrival fallacy, yakni keyakinan bahwa pencapaian tujuan besar—seperti menjadi kapten pilot di usia muda—akan menghadirkan kepuasan batin yang permanen.
Deva Angkasa menjadi representasi nyata fenomena ini. Ia berhasil mencapai jam terbang dan pangkat tertinggi lebih cepat dari kebanyakan orang. Namun posisi prestisius tersebut justru menjerumuskannya ke dalam tekanan untuk terus mempertahankan citra sempurna di mata publik.
Alih-alih membentuk karakter yang matang, pencapaian itu memperlihatkan betapa rapuh fondasi moral Deva. Film ini sekaligus menjadi kritik tajam terhadap pola asuh dan sistem pendidikan yang terlalu menitikberatkan hasil akhir, tanpa membangun tanggung jawab moral yang sepadan.
Disonansi Kognitif dan Penjara Gengsi
Konflik batin Deva digambarkan melalui cognitive dissonance—ketidakseimbangan antara realitas dan citra diri. Di era media sosial, tekanan untuk menampilkan gaya hidup sesuai jabatan menjadi beban psikologis tersendiri.
Bagi seorang kapten pilot, standar hidup tertentu dianggap sebagai kewajiban sosial. Ketika kondisi finansial tidak mampu menopang citra tersebut, dilema moral pun muncul. Film ini menunjukkan bagaimana gengsi dapat berubah menjadi penjara yang menyiksa.
Dalam situasi seperti ini, manipulasi sering kali tampak sebagai jalan pintas. Harga diri dan tanggung jawab moral menjadi taruhan yang perlahan terkikis.
Otoritas dan Manipulasi Kekuasaan
“Penerbangan Terakhir” juga membedah dinamika kekuasaan melalui konsep authority bias—kecenderungan manusia untuk patuh pada figur berjabatan tinggi.
Ruang kokpit pesawat menjadi metafora kuat tentang kontrol dan dominasi. Karisma serta seragam digunakan sebagai alat legitimasi untuk memengaruhi orang lain. Sutradara menampilkan bagaimana teknik komunikasi persuasif dapat meruntuhkan nalar kritis pihak yang berada di posisi lebih rendah.
Fenomena love bombing yang ditunjukkan Deva terhadap Tiara (Nadya Arina) menjadi peringatan bahwa kemasan kesuksesan tidak selalu sejalan dengan niat tulus.
Media Sosial dan Internalized Misogyny
Lapisan sosial lain hadir lewat karakter Nadia (Aghniny Haque), yang merepresentasikan peran media sosial dalam membentuk opini publik. Skandal dikonsumsi bukan sebagai fakta, melainkan sebagai komoditas atensi.
Film ini menyinggung internalized misogyny, di mana sesama perempuan justru saling menyalahkan dalam konflik. Media sosial menciptakan ruang penghakiman instan, di mana reputasi seseorang bisa runtuh dalam semalam tanpa pemahaman utuh atas kebenaran.
Halo Effect dan Standar Ganda Sosial
Secara sosiologis, film ini menampilkan halo effect—bias kognitif yang membuat masyarakat menganggap individu sukses pasti bermoral baik. Akibatnya, pelanggaran etika dari figur populer sering kali dimaafkan, sementara pihak yang lebih lemah menanggung beban hujatan lebih besar.
Di sinilah Penerbangan Terakhir memperlihatkan bagaimana sistem sosial kerap melindungi mereka yang memiliki kuasa dan popularitas.
Integritas sebagai Satu-satunya Penyelamat
Diadaptasi dari cerita fiksi “Gadis Pramugari” karya Annastasia Anderson, film ini menjadi studi psikologis tentang harga diri tinggi tanpa fondasi etika. Pesan moralnya jelas: integritas adalah satu-satunya penopang agar seseorang tidak benar-benar jatuh. Kesuksesan yang dibangun di atas utang dan kebohongan hanyalah fatamorgana yang melelahkan.
Lewat film ini, penonton diajak untuk tidak mudah takjub pada simbol kesuksesan. Sebab keberhasilan sejati bukan tentang seberapa tinggi seseorang terbang, melainkan seberapa tegak ia berdiri dengan nurani yang bersih—bahkan saat berada di daratan.


