Dokter: Teknologi robotik bisa bantu angkat tumor ginjal minim invasif
Kegiatan operasi kanker prostat menggunakan teknologi robotik Da Vinci XI di Eka Hospital MT Haryono Jakarta. ANTARA/HO-Eka Hospital MT Haryono
Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono dr. Agus Rizal A.H. Hamid menyebutkan teknologi robotik Da Vinci XI mampu melakukan operasi bedah kanker prostat hingga pengangkatan tumor ginjal minimal invasif setara yang dilakukan di luar negeri.
"Alat kesehatan di Indonesia sudah semakin lengkap. Bagi pasien kanker prostat di Indonesia bisa menggunakan teknologi robot ini karena mampu menjangkau tempat sulit tanpa harus membuat banyak sayatan," katanya di Tangerang Rabu.
Ia menjelaskan robot ini tetap dioperasikan oleh seorang dokter spesialis. Robot tersebut memiliki kelebihan diantaranya sistem audiovisual sebagai pusat kontrol kamera melihat area operasi dengan sangat jelas.
Lalu patient cart yakni unit dengan empat lengan robot yang berada langsung di atas pasien untuk melakukan tindakan. Surgical console yakni tempat dokter bedah duduk dan mengendalikan pergerakan tangan robot tersebut secara ergonomis.
"Melalui konsol ini juga, dokter dapat melihat kondisi dalam tubuh pasien secara tiga dimensi, sehingga dapat menggerakkan alat dengan sangat efektif tanpa mengalami tremor," katanya.
Perbedaan paling utama, lanjutnya, terletak pada kestabilan dan manuver tangan saat operasi. Pada laparoskopi konvensional, lanjutnya, alat bedah dipegang langsung oleh dokter, sementara pada operasi robotik, alat bedah berada pada lengan robot.
Lengan robot Da Vinci XI yang stabil dan ujung alatnya bisa berputar serta meliuk seperti tangan manusia memungkinkan sayatan yang lebih akurat tanpa ada kesalahan akibat tremor maupun tangan yang lelah.
"Kelebihan lainnya, karena Da Vinci XI dilengkapi dengan empat tangan robot, seorang dokter spesialis dapat mengerjakan tindakan yang seharusnya dikerjakan oleh dua orang," kata Agus yang telah mengerjakan operasi menggunakan robotik lebih dari 50 kasus sejak tahun 2021.
Berdasarkan data dan pengalaman lapangan, kata dia, hasil operasi robotik terbukti jauh lebih baik dibandingkan laparoskopi atau operasi terbuka.
"Teknologi ini memungkinkan kami melakukan pembedahan jaringan milimeter demi milimeter secara hati-hati, sehingga jaringan sehat tetap terjaga," ujarnya.
Sementara itu beberapa kasus yang sangat disarankan menggunakan robotik, antara lain radikal prostatektomi yakni pengangkatan kanker prostat dengan risiko efek samping seperti mengompol pascaoperasi yang jauh lebih rendah.
Partial nephrectomy yakni pengangkatan tumor ginjal tanpa harus mengangkat seluruh ginjal, karena proses penjahitan jauh lebih cepat dan aman dengan robot.
"Operasi rekonstruksi yakni tindakan pada saluran kemih yang sulit dilakukan secara manual," ujarnya.


