Lebaran dan kewajiban untuk bahagia
Surface acting adalah ketika seseorang menampilkan emosi tertentu tanpa benar-benar merasakannya. Sementara deep acting adalah upaya untuk benar-benar menyesuaikan perasaan agar sesuai dengan harapan.
Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) bersama putranya, Didit Hediprasetyo (ketiga kiri) dan Mensesneg Prasetyo Hadi (kiri) menyapa warga dalam halalbihalal Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (21/3/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/app/rwa.
Ada satu kalimat yang selalu kita ucapkan saat merayakan Lebaran: "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin."
Kalimat itu diucapkan dengan senyum, dengan pelukan, dengan harapan bahwa semua yang retak selama setahun bisa kembali utuh dalam sekejap. Seolah-olah, kita semua sepakat pada hari itu untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih pemaaf, dan lebih bahagia.
Namun, di balik suasana yang tampak hangat dan penuh suka cita, ada satu hal yang jarang dibicarakan, bahwa Lebaran tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga kewajiban untuk terlihat bahagia.
Arlie Russell Hochschild, seorang sosiolog terkemuka di Universitas California, dalam karyanya The Managed Heart (1983) memperkenalkan konsep emotional labor (kerja emosional). Kerja emosional merupakan upaya individu untuk mengelola perasaan mereka agar sesuai dengan harapan sosial.
Awalnya konsep ini digunakan untuk menjelaskan pekerjaan seperti pramugari atau pekerja layanan yang dituntut untuk selalu bersikap ramah. Jika diperluas, Lebaran bisa dibaca sebagai momen ketika seluruh masyarakat, secara kolektif, melakukan kerja emosional.
Lebaran bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita rasakan. Atau lebih tepatnya, apa yang diharapkan untuk kita rasakan. Pada hari itu, kita diharapkan untuk bahagia. Kita diharapkan untuk memaafkan. Kita diharapkan untuk merasa damai. Bahkan, kita diharapkan untuk menampilkan semua itu secara terbuka di hadapan orang lain.
Masalahnya, perasaan tidak selalu tunduk pada kalender. Tidak semua orang benar-benar merasa bahagia saat Lebaran. Sebab ada yang pulang kampung dengan beban ekonomi. Ada yang menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan. Seperti kapan menikah, kapan punya anak, kerja di mana sekarang, gajinya berapa, dan sebagainya.
Ada juga yang harus pulang dengan perasaan gagal karena belum memenuhi ekspektasi keluarga. Ada pula yang tidak bisa pulang sama sekali karena satu dan lain hal.
Terlepas dari itu semua, di tengah suasana Lebaran, ekspresi yang ditampilkan tetap harus sama: senyum, pelukan, dan ucapan maaf.
Di sinilah terjadi paradoks. Di satu sisi, Lebaran adalah momen yang sangat personal, tentang keluarga, tentang hubungan emosional, tentang refleksi diri. Namun di sisi lain, Lebaran juga sangat sosial, penuh dengan norma, ekspektasi, dan bahkan tekanan.
Dengan begitu, kita tidak hanya merayakan Lebaran. Kita juga memainkan peran dalam momen itu. Hochschild menyebut bahwa dalam kerja emosional, ada dua cara yang biasanya dilakukan individu, yaitu surface acting dan deep acting.
Surface acting adalah ketika seseorang menampilkan emosi tertentu tanpa benar-benar merasakannya. Sementara deep acting adalah upaya untuk benar-benar menyesuaikan perasaan agar sesuai dengan harapan.
Dalam konteks Lebaran, keduanya terjadi. Ada yang benar-benar merasa damai dan bahagia. Namun, tidak sedikit pula yang hanya “menampilkan” kebahagiaan itu di panggung depan mereka. Mereka tersenyum, bersalaman, dan meminta maaf, bukan karena semua konflik telah selesai, tetapi karena memang begitulah yang diharapkan secara sosial.
Lebaran, dengan demikian, menjadi semacam panggung emosional kolektif. Di panggung itu, hampir semua orang memainkan peran yang sama, yakni berusaha menjadi pribadi yang hangat, pemaaf, dan bahagia. Tidak ada ruang yang cukup untuk menunjukkan rasa marah, kecewa, atau lelah secara terbuka. Emosi-emosi itu harus ditunda, disembunyikan, atau setidaknya dikelola agar tidak mengganggu harmoni sosial.
Ironisnya, justru karena itulah Lebaran terasa “indah”. Bayangkan jika semua orang benar-benar jujur tentang perasaannya pada hari itu. Mungkin tidak semua pelukan akan terjadi. Tidak semua kata maaf akan terucap. Tidak semua hubungan akan terasa hangat. Dalam arti tertentu, keindahan Lebaran justru dibangun di atas kemampuan kolektif masyarakat untuk mengelola emosi mereka.
Namun,, kerja emosional ini tidak selalu tanpa biaya. Bagi sebagian orang, menjaga ekspresi bahagia di tengah kondisi yang tidak ideal bisa menjadi pengalaman yang melelahkan. Mereka harus menahan perasaan, menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial, dan terus menjaga penampilan emosional di hadapan keluarga dan kerabat.
Lebaran, yang seharusnya menjadi momen pelepasan, kadang justru menjadi momen penyesuaian diri. Hal ini semakin terlihat dalam era media sosial. Lebaran tidak hanya dirayakan di ruang keluarga, tetapi juga di ruang digital.
Foto-foto keluarga harmonis, ucapan penuh makna, dan ekspresi kebahagiaan beredar di berbagai platform. Secara tidak langsung, ini menciptakan standar baru tentang bagaimana Lebaran “seharusnya” terlihat.
Akibatnya, tekanan untuk terlihat bahagia menjadi semakin besar. Kita tidak hanya ingin merasa bahagia, tetapi juga ingin terlihat bahagia di mata orang lain. Bahkan ketika perasaan itu tidak sepenuhnya ada.
Di tengah semua paradoks itu, bukan berarti Lebaran kehilangan maknanya. Sebaliknya, di situlah kompleksitasnya.
Kerja emosional yang terjadi saat Lebaran bukan hanya tentang kepura-puraan, tapi juga bisa menjadi cara untuk membuka ruang rekonsiliasi. Kadang, memulai dengan senyum yang “dipaksakan” bisa berujung pada percakapan yang tulus. Kadang, meminta maaf meskipun belum sepenuhnya siap bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki hubungan.
Artinya, kerja emosional itu tidak selalu negatif. Ia bisa menjadi jembatan antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita harapkan terjadi.
Namun satu hal yang penting untuk disadari adalah bahwa tidak semua orang berada dalam posisi yang sama. Bagi sebagian orang, Lebaran adalah kebahagiaan yang nyata. Tapi bagi yang lain, ia mungkin adalah kombinasi antara harapan, tekanan, dan kelelahan emosional. Karenanya, hal ini mungkin membuat kita melihat Lebaran dengan cara yang berbeda.
Bahwa di balik senyum-senyum yang kita lihat, ada berbagai cerita yang tidak selalu terlihat. Bahwa di balik pelukan-pelukan hangat, ada emosi yang kadang masih belum sepenuhnya selesai. Bahwa kebahagiaan yang kita rayakan bersama, dalam banyak kasus, adalah hasil dari upaya kolektif untuk menciptakannya, bukan sesuatu yang selalu datang dengan sendirinya.
Akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang kebahagiaan. Tapi juga tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, belajar mengelola emosi kita bersama-sama. Di situlah makna terdalamnya, bukan pada kebahagiaan yang sempurna, tetapi pada usaha bersama untuk tetap saling terhubung bahkan ketika perasaan kita tidak selalu sejalan dengan apa yang ditampilkan.
*) Najamuddin Khairur Rijal, dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Malang


