MINHA diharapkan menjadi ruang dialog dan pembelajaran publik
Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari atau MINHA di Jombang, Jawa Timur, diharapkan bisa menjadi ruang dialog dan pembelajaran publik setelah direvitalisasi. Revitalisasi museum itu meliputi perbaikan tata pamer, penambahan ruang dan zona tematik, serta penguatan narasi sejarah.
Menurut siaran pers Kementerian Kebudayaan yang diterima di Jakarta pada Kamis, MINHA kini memiliki ruang pamer, alur kunjungan, serta sajian narasi sistematis dan komunikatif yang dapat memperkaya pengalaman pengunjung saat menelusuri sejarah Islam di Indonesia.
"Melalui pembukaan kembali MINHA, kami berharap sajian informasi koleksi mengenai bukti peradaban Islam di Indonesia mulai dari awal masuknya Islam hingga masa Indonesia Merdeka dapat tersampaikan secara lebih utuh," kata Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Esti Nurjadin.
"Kehadiran wajah baru MINHA diharapkan tidak hanya melengkapi fungsi museum sebagai ruang penyimpanan koleksi, tetapi juga sebagai ruang dialog budaya, pembelajaran publik, serta rumah belajar sejarah peradaban Islam yang berperan dalam penguatan identitas bangsa yang inklusif dan berkelanjutan," ia menjelaskan.
Selama masa uji coba penyelenggaraan layanan museum, dari 13 sampai 31 Januari 2026, pengelola MINHA memberlakukan tarif Rp0 kepada seluruh pengunjung. Biaya masuk ke museum akan dikenakan mulai 1 Februari 2026, setelah uji coba layanan selesai.
Uji coba penyelenggaraan layanan museum dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana, sistem layanan, serta alur kunjungan yang aman dan nyaman bagi pengunjung. Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk meningkatkan fungsi museum sebagai ruang pelestarian warisan budaya, pusat edukasi publik, serta medium dialog.

