Mengenal Buljud: Perayaan Iduladha di Maroko yang 'berbeda'
Mengenal Buljud: Perayaan Iduladha di Maroko yang berbeda, lengkap dengan sejarah, makna, dan kontroversi Boujloud.
Mengenal Buljud: Perayaan Iduladha di Maroko yang 'berbeda'. (Sumber: Wikipedia)
Semua negara dan budaya tentunya punya tradisi khasnya tersendiri.Karena akar kebudayannya yang berbeda-beda, untuk satu jenis perayaan yang sama, punya pendekataan dan pemaknaan yang berbeda. Maroko punya satu tradisi yang cenderung 'unik' dan 'berbeda' dalam memaknai Iduladha sebagai bagian dari salah satu haru raya besar bagi umat muslim. Buljud atau dikenal juga sebagai Boujloud, merupakan ritual budaya yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai wilayah pedesaan dan kota kecil di Maroko, khususnya di kawasan selatan seperti Agadir dan wilayah Souss-Massa.
DBuljud biasanya dilakukan oleh para laki-laki yang masih muda. Mereka berbondong-bondong mengenakan kulit kambing atau domba hasil penyembelihan kurban. Tradisi ini biasanya berlangsung selama satu hingga 3 hari hari setelah Iduladha, mengikuti selesainya proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah.
Asal-usul dan latar sejarah tradisi Boujloud
Dalam studi etnografi menunjukkan bahwa tradisi Buljud telah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan sebelum masuknya Islam ke Afrika Utara. Studi dari antropolog Maroko seperti Abdellah Hammoudi menyebutkan bahwa ritual ini memiliki akar dalam tradisi agraris masyarakat Amazigh (Berber), yang kemudian beradaptasi dengan praktik Islam setelah penyebaran agama pada abad ke-7 Masehi.
Menurut lembaga kebudayaan di Ministry of Youth, Culture and Communication Morocco menyebutkan bahwa tradisi Boujloud tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya tak benda, meskipun mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Dalam beberapa dekade terakhir, tradisi ini lebih dominan pada elemen hiburan seperti musik dan parade.
Waktu pelaksanaan Buljud
Buljud tidak dilakukan pada hari pertama Iduladha, melainkan dimulai setelah proses penyembelihan selesai. Umunya, tradisi ini berlangsung antara hari ke-2 hingga ke-4 Iduladha.
Tradisi ini lebih sering dilaksanakan di wilayah selatan Maroko, seperti desa-desa di sekitar Taroudant dan Tiznit. Selain itu, beberapa kota besar juga mulai mengadakan Buljud dengan versi modern dalam bentuk festival budaya untuk menarik wisatawan domestik dan internasional.
Cara pelaksanaan dan makna yang terkandung
Peserta Buljud berjalan berkeliling desa sambil menari, memainkan alat musik tradisional, dan berinteraksi dengan warga. Musik yang digunakan biasanya berasal dari instrumen khas Afrika Utara seperti bendir dan drum tradisional.
Makna dari Buljud sering dikaitkan dengan konsep kesuburan, perlindungan dari roh jahat, serta perayaan kehidupan setelah pengorbanan.
Kontroversi dan pandangan ulama setempat
Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi Buljud mengalami pengawasan lebih ketat dari pemerintah setempat. Otoritas di Maroko sempat membatasi praktik ini di beberapa kota karena alasan keamanan dan ketertiban umum, terutama ketika perayaan melibatkan kerumunan besar dan penggunaan kostum yang dianggap menimbulkan gangguan.
Selain itu, terdapat pandangan kritis dari sebagian ulama lokal. Sejumlah ulama menyatakan bahwa praktik ini tidak disarankan karena dianggap “membandingkan manusia, yang telah dimuliakan oleh Allah, dengan hewan.” Mereka juga menyoroti penggunaan kulit hewan yang dinilai dapat menodai tubuh manusia serta menimbulkan bau tidak sedap, terutama dalam kondisi panas.
Mengenakan dan melepas kostum kulit hewan dinilai dapat mengganggu pelaksanaan salat tepat waktu. Dalam pendapat yang sama disebutkan bahwa kondisi tersebut dapat mengharuskan seseorang untuk berwudu kembali setelah melepas kostum, serta proses yang lama dalam membersihkan bau daging yang menempel di tubuh sehingga berpotensi menghambat kewajiban ibadah salat.
Buljud sebagai bagian dari identitas budaya Maroko
Buljud masih menjadi salah satu representasi dari Tradisi Iduladha di Maroko yang 'berbeda'. Tradisi ini menunjukkan bagaimana praktik keagamaan dapat berinteraksi dengan budaya lokal.
Dengan keberlanjutan yang dijaga oleh komunitas lokal, Buljud menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi dapat bertahan sambil terus beradaptasi dengan perubahan zaman.


