AS-Israel serang Iran, ketakutan akan Perang Dunia III menggema
Ledakan akibat serangan misil Iran ke Tel Aviv, Israel, Sabtu (28/2/2026). ANTARA/Xinhua/Chen Junqing/am.
Mereka yang bersorak atas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, seharusnya menyadari terlebih dahulu sebuah pepatah bijak yang menyatakan bahwa "korban pertama dari perang adalah kebenaran itu sendiri". Tidak perlu ilmuwan canggih untuk menyadari bahwa sebelum kebrutalan agresi AS-Israel ke Iran terjadi pada hari terakhir Februari 2026 itu, sebenarnya kemajuan telah terjadi dalam negosiasi perundingan antara AS dan Iran, yang dimediasi oleh Oman.
Optimisme dan harapan akan terciptanya perdamaian dan situasi yang lebih kondusif melambung tinggi ketika AS dan Iran terlibat dalam putaran baru pembicaraan nuklir yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, Swiss.
Setelah berbulan-bulan ketegangan dan kecemasan regional meningkat, para negosiator dari Washington dan Teheran, yang dipandu oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi, menggambarkan diskusi tidak langsung tersebut sebagai konstruktif dan bahkan progresif pada beberapa isu inti yang menjadi perselisihan seputar program nuklir Iran.
Sebagaimana dilaporkan sejumlah pemberitaan media internasional, Al-Busaidi mengatakan bahwa putaran terbaru mencapai "kemajuan signifikan," yang membuka jalan bagi pembicaraan tingkat teknis untuk dilanjutkan di Wina sekitar sepekan setelah Jenewa. Sebuah sinyal bahwa kedua belah pihak berkomitmen untuk menempuh jalur diplomatik ke depan.
Begitu pula para pejabat Iran telah berulang kali menegaskan mereka untuk terlibat secara serius dan realistis jika adanya keselarasan dalam tuntutan yang mereka sampaikan. Namun, semua itu tampak sia-sia dan harapan itu menguap begitu saja dengan datangnya agresi AS-Israel ke Iran.
Tidak hanya sekadar agresi, serangan operasi militer canggih itu ternyata juga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta banyak warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
The Wall Street Journal menyebutkan bahwa serangan AS-Israel itu menyerang lebih dari 2000 target di seluruh Iran. Sementara itu, lembaga Bulan Sabit Merah pada Senin (2/3), sebagaimana dikutip oleh Kantor Berita Fars, mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan udara AS-Israel sejak Sabtu (28/2) mencapai 555 orang.
Seperti tidak puas dengan itu, Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Daily Mail menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung sekitar empat pekan atau kurang dari itu. Mereka yang mendukung aksi militer AS-Israel mungkin dapat berdalih bahwa serangan tersebut karena kesepakatan yang akan dicapai dalam mode diplomasi-negosiasi biasanya tidak akan berjalan mulus apalagi berlangsung dengan tulus.
Dengan kata lain, telah ada prasangka buruk bahwa apa pun yang ada di atas meja perundingan, ke depannya tidak akan mungkin mengekang ambisi Teheran untuk menghasilkan senjata nuklir, meski hingga kini tidak ada bukti nyata bahwa Iran telah berhasil memproduksi senjata jenis tersebut.
Selain itu, Teheran telah berulang kali menegaskan bahwa riset nuklir yang dilakukan adalah untuk tujuan damai dan bukan memproduksi senjata nuklir. Iran juga telah berkali-kali membuka diri untuk diperiksa oleh lembaga Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang merupakan badan pengawas dari PBB.
Ada juga dugaan bahwa sebenarnya serangan AS-Israel juga bertujuan untuk memamerkan kekuatan yang dimiliki oleh kedua negara itu, seperti memberikan sinyal mengenai kemampuan operasi militer yang mereka miliki agar dapat mempengaruhi mental baik pihak sekutu maupun pihak lawan.
Namun, apa pun alasan yang dikemukakan, telah banyak pengamat yang mengingatkan bahwa serangan itu tidak hanya terlalu dini, tetapi juga kontraproduktif, merusak aliran diplomasi yang telah berjalan selama beberapa waktu, sehingga melanggar hukum internasional (baca: Piagam PBB).
Potensi Perang Dunia
Menarik untuk ditakar apakah serangan AS-Israel yang brutal tersebut juga dapat menimbulkan Perang Dunia III?. Jawaban atas pertanyaan tersebut tentu bukanlah semudah membalik telapak tangan. Ada berbagai serangkaian respons baik secara politik-militer maupun aspek kemasyarakatan lainnya yang penting.
Harus diakui bahwa saat ini konflik tersebut masih terbatas kepada perang regional, di mana Iran menghadapi serangan terhadap berbagai infrastruktur dalam negeri oleh duet AS-Israel. Tentu saja selaras hukum Newton, di mana ada aksi pasti ada reaksi, Iran juga telah menyasar berbagai lokasi yang disebut sebagai lokasi infrastruktur militer AS di kawasan.
Tindakan aksi-reaksi itu tentu saja tidak membentuk perang global, karena perang dunia membutuhkan keterlibatan langsung beberapa kekuatan besar di berbagai medan pertempuran. Sejumlah langkah yang dapat terjadi yang dapat meningkatkan eskalasi di kawasan Timur Tengah menjadi konfrontasi yang lebih luas dan berpotensi global, antara lain adalah adanya intervensi secara langsung dan terbuka oleh Rusia atau China.
Jika saja Rusia memberikan dukungan militer kepada Iran di luar pengiriman senjata—seperti mengerahkan awak pertahanan udara, pesawat tempur, atau aset angkatan laut—bentrokan langsung dengan pasukan AS dapat terjadi, yang secara dramatis dapat meningkatkan status konflik menjadi jauh lebih signifikan.
Demikian pula, bila misalnya terjadi keterlibatan secara nyata dilakukan oleh militer China, khususnya di Teluk Persia atau melalui operasi proksi, maka hal tersebut dapat memperkenalkan kekuatan global kedua ke dalam pertempuran aktif, serta meningkatkan risiko eskalasi di berbagai front.
Namun, baik Rusia maupun China pada saat ini telah menunjukkan bahwa mereka lebih ingin adanya penurunan ketegangan.
Kantor Berita Xinhua melaporkan bahwa Rusia menyerukan deeskalasi segera, penghentian pertempuran, serta pemulihan proses politik dan diplomatik guna menyelesaikan permasalahan yang ada berdasarkan Piagam PBB dan Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir, yang mempertimbangkan kepentingan sah seluruh negara-negara yang terdapat di kawasan Teluk.
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan negaranya sangat prihatin atas serangan AS-Israel dan mendesak penghentian segera aksi militer tersebut. Pemerintah China juga meminta semua pihak mencegah eskalasi lebih lanjut dan melanjutkan kembali proses dialog atau negosiasi, serta menunjukkan upaya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.
Senada, banyak respons di tingkat elite global sebenarnya sebagian besar lebih bersifat diplomatik, yang diwarnai antara lain dengan kecaman, seruan untuk menahan diri, dan keprihatinan kemanusiaan yang mendominasi pernyataan yang disampaikan secara terbuka kepada publik.
Risiko rendah
Singkatnya, risiko Perang Dunia III bukannya nol atau tidak ada, tapi risikonya dinilai rendah dalam jangka pendek.
Dengan kata lain, tanpa adanya langkah yang salah perhitungan atau tindakan provokatif signifikan lanjutan yang melibatkan kekuatan besar lainnya, maka konflik tersebut, seberapa pun parahnya, kemungkinan besar akan tetap bersifat regional dan bukan global.
Mencegah eskalasi lebih lanjut dan mendorong stabilitas jangka panjang di Timur Tengah membutuhkan tindakan terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan — AS, Israel, Iran, negara-negara Arab, mediator regional, dan lembaga multilateral. Pertama dan terpenting, segala tindakan permusuhan harus segera dihentikan, sehingga baik AS maupun Israel wajib menghentikan operasi ofensif, sementara Iran harus menahan serangan balasan, dengan fokus pada respons yang proporsional.
Gencatan senjata, yang didukung oleh mekanisme pemantauan yang kredibel, dapat menciptakan ruang yang diperlukan untuk diplomasi dengan perspektif baru. Perlu pula untuk segera dipilih mediator yang terbukti dapat berperan sebagai fasilitator netral untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dan keamanan regional.
Adapun berbagai aktor regional, khususnya negara-negara Teluk dan Turki, harus fokus pada pencegahan tanpa provokasi, memperkuat pertahanan, dan mempersiapkan diri untuk potensi masuknya pengungsi tanpa mengobarkan konflik baru. Selain itu, PBB harus dapat memperkuat hukum internasional dengan menuntut penghormatan terhadap perlindungan sipil, menyerukan bantuan kemanusiaan segera, dan mengoordinasikan tekanan diplomatik untuk menjaga perdamaian.
Beragam bentuk insentif ekonomi, seperti pengurangan sanksi sebagian atau integrasi perdagangan, dapat lebih memotivasi Iran dan aktor regional untuk berkomitmen pada stabilitas kawasan. Dengan menggabungkan pengekangan militer, keterlibatan diplomatik, kerangka kerja keamanan regional, insentif ekonomi, dan koordinasi kemanusiaan, pihak-pihak yang terlibat dapat mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Meskipun jalan untuk mencapai berbagai hal tersebut dapat disebut sangat terjal serta super sulit, tapi konsistensi terhadap koordinasi berbagai tindakan yang telah disebut guna menstabilkan kawasan serta menegakkan norma-norma internasional, akan dapat mencegah kemungkinan bencana konfrontasi global.


