Melihat kesiapan tim Ekspedisi Elshinta, 7 hari susuri jalur mudik 2026
Beberapa hari sebelum keberangkatan, empat jurnalis Elshinta sibuk memeriksa perlengkapan, meneliti rute, dan menyiapkan strategi untuk tujuh hari liputan di dua pulau.
Tim EEJML 2026 mengikuti rapat pemantauan jelang keberangkatan.
Kalender di dinding kantor Elshinta sudah dilingkari merah, Jumat, 6 Maret 2026. Dua tim akan bergerak dari Gedung Korlantas Polri, Jl. MT Haryono, Jakarta Selatan, ke arah yang berlawanan. Sebelum itu, hari-hari mereka diisi aktivitas persiapan, memetakan sinyal sepanjang rute hingga menghitung waktu tempuh.
Di balik itu, Robby Hatibie selaku Project Officer, sudah lebih dulu menekuni urusan yang tidak akan muncul di siaran. Bersama M. Riskianto sebagai Program Asistant, keduanya membereskan jalur ekspedisi, memastikan rundown tidak bertabrakan, dan menyiapkan panduan cadangan untuk tim di lapangan, jika sinyal tiba-tiba hilang dan tidak ada waktu bertanya.
Empat Nama, Dua Jalur
Pembagian tim sudah jelas. Awaluddin Marifatullah dan Arie Dwi P menempuh jalur Jawa: Jakarta-Surabaya via Pantura dan Tol Trans-Jawa, lalu kembali lewat jalur selatan.
M. Irza Farel dan Farens Excel menuju Sumatera-Merak, Bakauheni, Lintas Sumatera, Palembang, kemudian ke lintas tengah menuju Lahat sebelum kembali ke Jakarta.
Tujuh hari liputan. Dua pulau disusuri. Sepanjang itu, mereka mengikuti perjalanan jutaan pemudik yang diprediksi bergerak pada Lebaran 2026.
Irza dan Farens: Sumatera Persiapan Matang
Irza Farel mengaku tidak suka kejutan di lapangan. Maka, hari-hari sebelum berangkat ia gunakan untuk menyiapkan segala hal, seperti mempelajari rute, mencatat titik rawan, dan menyimpan nomor kontak penting.
"Jalurnya panjang dan beberapa akses jalan masih berkelok. Tentunya gua harus nyiapin persiapan dan juga rute jalan sih untuk di sana," ujar Farel
Ruas yang paling ia waspadai adalah Lahat ke Martapura. Tikungannya rapat dan jalannya lurus dalam jarak cukup panjang untuk membuat pengemudi lengah. Perjalanan berlanjut ke Lampung, sekitar tujuh jam, sebelum tim menyeberang kembali ke Jawa.
Fisik dipersiapkan dengan sederhana, olahraga rutin beberapa pekan terakhir. Farel tahu kelelahan di hari ketiga bisa memengaruhi performa di hari-hari berikutnya. Sebelum berangkat, ia sempat pulang untuk pamit dan minta doa orang tua. "Biar dikasih kelancaran, keselamatan, dan kesehatan," ujarnya.
Farens Excel, pendampingnya di jalur Sumatera, fokus memastikan setiap laporan bisa dikirim dari titik mana pun mereka berhenti, tanpa jeda yang tidak perlu.
Awaluddin dan Arie: Jalur Jawa yang Selalu Penuh Tantangan
Awaluddin Marifatullah mengaku ada tekanan tersendiri saat menerima tugas ini.
"Jawa itu kan barometer arus mudik nasional. Deg-degan ada, tapi rasa tanggung jawabnya lebih besar," ujarnya.
Pantura tiap musim mudik punya daftar masalah yang sudah bisa dihafal tapi tetap menuntut perhatian, pasar tumpah yang tiba-tiba menyempitkan badan jalan, rest area yang jebol kapasitasnya dalam hitungan jam, lubang di ruas yang belum diperbaiki. Awaluddin dan Arie mencatat semua itu sebelum berangkat, supaya bisa langsung menyesuaikan langkah di lapangan.
Satu hal yang selalu diingat dari briefing yakni jangan memaksakan diri.
"Bukan soal liputan cepat saja, tapi bagaimana tetap aman saat kondisi tubuh tidak fit," katanya.
Prioritas perlengkapan jelas, alat komunikasi dan koneksi internet. Powerbank ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau.
Lebih dari Sekadar Arus Kendaraan
Tim EEJML 2026 tidak hanya melaporkan jalur rawan kemacetan. Tim juga memantau fasilitas jalan dan segala yang dibutuhkan pemudik. Semua disiarkan langsung lewat Radio Elshinta, elshinta.com, aplikasi Ngetem, serta video pendek di Instagram, TikTok, dan YouTube.
Pelepasan resmi dilakukan oleh Kakorlantas Polri, Dirjen Perhubungan Darat, Dirut PT Jasa Marga, dan Dirut PT Jasa Raharja pada 6 Maret pukul 08.00 WIB.
Jelang Keberangkatan
Awaluddin menjawab singkat saat ditanya kondisi tim. "Siaga."
Farel sudah mengemas perlengkapannya tiga hari sebelum keberangkatan.
Robby dan Riskianto tetap di Jakarta, menangani persoalan yang sewaktu-waktu bisa muncul, karena mereka akan jadi orang pertama yang ditanya jika ada masalah di lapangan.
Dalam beberapa hari lagi, semuanya bergerak. Di balik perjalanan tim di jalan, Robby, maupun Riskianto, ada jaringan yang lebih besar, seluruh redaksi Radio Elshinta ikut memastikan setiap upaya liputan berjalan lancar.
Rama Pamungkas


