Badan Geologi catat 1.980 kali gempa embusan Gunung Karangetang-Sitaro
Badan Geologi, Kementerian ESDM, mencatat sebanyak 1.980 kali gempa embusan Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara selama periode 16 - 31 Desember 2025.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Badan Geologi, Kementerian ESDM, mencatat sebanyak 1.980 kali gempa embusan Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara selama periode 16 - 31 Desember 2025.
"Terekam sebanyak 28 kali gempa guguran, 141 kali tremor harmonik, 66 kali tremor nonharmonik, serta satu kali gempa frekuensi rendah," kata Plt Kepala Badan Geologi, Lana Saria dalam laporan evaluasi Gunung Karangetang yang diterima ANTARA di Manado, Senin.
Dalam laporan juga disebutkan, Badan Geologi mencatat sebanyak 25 kali gempa hybrid/fase banyak, 30 kali gempa vulkanik dangkal, 62 kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa terasa pada skala MMI - I dan 52 kali gempa tektonik jauh.
Dari evaluasi Badan Geologi, kondisi visual pada kawah utama (selatan) tidak teramati adanya kejadian guguran/erupsi efusif, tinggi asap maksimum mencapai 500 meter di atas puncak, suara gemuruh kadang terdengar di pos gunung api.
Kondisi kawah utara tampak asap putih sedang hingga tebal tinggi maksimum 500 meter di atas puncak, sinar api pada kolom asap masih tampak sekitar 5-10 meter, suara gemuruh kadang terdengar lemah.
Aktivitas gempa embusan masih tinggi sejak peningkatan pada 12 Oktober 2025, aktivitas embusan pada perioda 16 – 31 Desember 2025 terekam sebanyak 1.980 kejadian atau sebanyak sekitar 116 kejadian per hari.
Sedangkan gempa vulkanik belum menunjukkan adanya peningkatan, saat ini aktivitas vulkanik Gunung Karangetang berada di bagian permukaan.
Warga diharapkan mewaspadai awan panas guguran dimana kubah lava lama masih ada di puncak yang sewaktu-waktu dapat runtuh bersamaan dengan keluarnya lava, serta mewaspadai kejadian lahar di waktu hujan deras di puncak.
"Karakteristik awan panas guguran Gunung Karangetang terjadi dari penumpukan material lava yang gugur/longsor," kata Lana.
Badan Geologi menetapkan status Level II (Waspada) untuk gunung api dengan tinggi 1.784 meter di atas permukaan laut yang menjulang di Pulau Siau tersebut.


