BPS libatkan ratusan mahasiswa STIS dalam pendataan pascabencana

Badan Pusat Statistik (BPS) mengerahkan 510 mahasiswa Politeknik Statistika STIS untuk melakukan pendataan pascabencana di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Sumatera.

Update: 2026-01-14 10:30 GMT

Sumber foto: Heru Lianto/elshinta.com.

Elshinta Peduli

Badan Pusat Statistik (BPS) mengerahkan 510 mahasiswa Politeknik Statistika STIS untuk melakukan pendataan pascabencana di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Sumatera.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan para mahasiswa tersebut akan bertugas selama kurang lebih dua minggu guna mengumpulkan berbagai data strategis yang dibutuhkan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

“Data yang dikumpulkan nantinya akan menjadi basis untuk melihat kondisi pascabencana dengan membandingkannya terhadap data pra-bencana yang sudah dimiliki BPS, seperti data potensi desa dan data sosial ekonomi lainnya,” kata Amalia di Politeknik Statistika STIS, Otistas, Jakarta Timur, Selasa (13/1).

Amalia menerangkan, pendataan diprioritaskan di 15 kabupaten dan kota yang terdampak bencana paling parah, di mana jumlah mahasiswa yang diterjunkan ke setiap wilayah disesuaikan dengan tingkat keparahan dampak bencana di daerah tersebut.

“Daerah yang dampaknya lebih berat akan mendapatkan alokasi personel lebih banyak, sementara daerah dengan dampak lebih ringan akan disesuaikan,” ujarnya.

Adapun wilayah sasaran pendataan meliputi sejumlah daerah di Provinsi Aceh, antara lain Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Jaya, Bener Meriah, dan Aceh Utara.

Selain itu, pendataan juga dilakukan di wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat yang terdampak signifikan.

Elshinta Peduli

Menurut Amalia, penugasan ini menjadi yang kali pertama mahasiswa Politeknik Statistika STIS melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di wilayah terdampak bencana.

Kegiatan PKL mahasiswa tingkat tiga tersebut diarahkan untuk sekaligus mendukung kebutuhan pendataan pascabencana.

“Bagi mahasiswa, ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan berbeda dari PKL sebelumnya. Pendataan di situasi bencana membutuhkan dedikasi, profesionalisme, dan integritas yang tinggi,” terangnya.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan PKL ini didampingi oleh 17 dosen pembimbing. Selain itu, sebanyak 37 pegawai BPS Pusat juga ditugaskan untuk melakukan supervisi dan pendampingan di lapangan.

“Karena kegiatan perkuliahan tetap berjalan, tidak semua dosen bisa turun langsung ke lapangan. Oleh karena itu, supervisi juga dibantu oleh pegawai BPS Pusat, khususnya dari unsur statistisi dan tenaga teknis,” ujarnya.

Amalia berharap pendataan yang dilakukan mahasiswa STIS dapat menghasilkan data berkualitas yang menjadi dasar kebijakan pemulihan pascabencana secara tepat sasaran

"Melalui penugasan ini, kami (BPS) bergarap kegiatan PKL tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga pengalaman pengabdian nyata kepada negara dan masyarakat," ujarnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Heru Lianto, Rabu (14/1).

Tags:    
Elshinta Peduli

Similar News