Perajin seni berbahan kelapa kering di Subang butuh dukungan

Kelapa kering yang sudah dianggap sampah dan tak bernilai, bisa dimanfaatkan dan dapat menghasilkan uang. Yusef Yudiana (45) seorang perajin asal subang, Jawa Barat, contohnya.

Update: 2022-03-28 14:06 GMT
Sumber foto: Hari Nurdiansyah/elshinta.com.

Elshinta.com - Kelapa kering yang sudah dianggap sampah dan tak bernilai, bisa dimanfaatkan dan dapat menghasilkan uang. Yusef Yudiana (45) seorang perajin asal subang, Jawa Barat, contohnya. Lewat kepiawaian tangannya, Yusef menyulapnya kelapa kering menjadi sebuah karya seni yang unik dan indah.

Ia ukir kelapa kering tersebut menjadi sebuah karya seni ukir wajah baik wajah pewayangan, tokoh maupun ikonik lainnya. Uniknya lagi, bentuk kelapa yang berbeda-beda menjadikan bentuk wajah yang tak serupa.

Yusef mengaku sudah menggeluti dunia seni ini sejak 2001 lalu, namun karena ia membutuhkan perajin lainnya maka ia membuat sebuah kelompok perajin di subang dengan nama "Kalong Malam Art".

"Saya mulai berkecimpung di dunia seni sejak 2001. Saya bersama rekan lainnya berjuang konsisten memajukan dunia seni. Semua yang berkaitan seni dari bahan kayu, bambu, batu, atau berhubungam dengan alam dan dianggap sampah tak bernilai kami ubah jadi bernilai," ujar Yusef kepada Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Senin (28/3). 

"Waktu 15 sampai 20 menit bisa saya selesaikan satu ukiran kelapa kering. Secara teknis alhamdulillah, enggak ada kendala," katanya.

Hanya saja Pemerintah daerah sampai saat ini belum meliriknya apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Yusef dan rekan-rekannya tidak hanya membuat kerajinan dari bahan kelapa kering, tetapi dia mayoritas 60 persen membuat kerajinan dari bahan kayu lame dan 40 persen dari batu, limbah, dan bahan lainnya.

"Kayu lame membuat seperti singa, patung pewayangan atau golek, kami juga mampu membuat sarung golok," jelas Yusef.

Keuletan dan keterampilan menjadi modal besar para perajin, hasil karya seninya ini sudah dipasarkan hingga ke luar Pulau Jawa. Mereka juga kerap mengikuti sejumlah ajang pameran secara pribadi. Namun bukan tanpa kendala, mereka terganjal modal untuk pemasaran serta tidak adanya kepedulian pemerintahan desa ataupun Pemerintah Kabupaten Subang.

"Harga ukiran kelapa kering tergantung ukuran, ada yang mulai harga Rp25 ribu, Rp30 ribu, Rp75 ribu hingga Rp100 ribu. Bagi pemesan pun boleh minta gambar apa saja," katanya yang mengaku belajar secara otodidak ini.

Tags:    

Similar News