Pesan Iduladha: Belajar dari kepemimpinan Nabi Ibrahim
Nabi Ibrahim AS adalah sosok tauladan yang tak ingin dirinya terus menerus jadi pemimpin dan mempersiapkan generasinya agar tidak.terpengaruh dari lingkungan yang dapat merusak nilai ketaqwaannya kepada Allah.
Elshinta.com - Nabi Ibrahim AS adalah sosok tauladan yang tak ingin dirinya terus menerus jadi pemimpin dan mempersiapkan generasinya agar tidak.terpengaruh dari lingkungan yang dapat merusak nilai ketaqwaannya kepada Allah. Hal itu disampaikan dalam pesan Khotbah Khatib H. Fadhlan Zainuddin pada salat Iduladha di Masjid Asy Syafi'iyah Jl Sinumba Raya No 1 Helvetia Timur, Medan, Sumatera Utara, Minggu (10/7) kemarin.
Lebih lanjut H Fadhlan yang juga Qori Internasional ini dalam khotbahnya menjelaskan, ada empat pesan yang terkandung dalam kisah Nabi Ibrahim yaitu: pertama, nabi Ibrahim tidak ingin dirinya terus menerus jadi pemimpin. Dia selalu berdoa Allah agar kelak dari generasinya lahir pemimpin yang membawa nilai ketauhidan.
"Dia tak mau terus menerus jadi pemimpin dan tak ada doanya kepada Allah agar dia terus jadi pemimpin," ujar Pengasuh Pondok Madrasah Fadhlul Qur'ra di Tembung Deli Serdang seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Diurnawan, Senin (11/7).
Pesan kedua, Nabi Ibrahim mempersiapkan generasinya sejak kecil agar tidak terpangaruh pada lingkungan yang bisa merusak pertumbuhan generasinya terutama kerusakan moral, akhlak terlebih jauh dari ketakwaan kepada Allah. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim meninggalkan isteri dan anaknya Ismail di Mekkah yang jauh dari kehidupan tetapi dekat dengan rumah Allah.
Ketiga, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah agar suatu hari Allah menurunkan dari generasi kenabian yang berasal dari Mekkah yang kelak membawa agama Allah dan mensyiarkan kalam Allah Al Qur'anul Karim.
Selanjutnya pesan ke empat dari peristiwa nabi Ibrahim adalah nilai kurban dalam meningkatkan kesolehan pribadi dan kesolehan sosial.
Nilai keikhlasan dalam berkurban baik untuk pribadi, masyarakat dan bangsa sangat diperlukan. Karena, keikhlasan dalam berkurban dapat melahirkan tauladan di tengah masyarakat di saat kondisi hari ini semangat untuk berempati, bergotong royong dan membangun kebersamaan sudah mulai pudar.
Bukan Perpecahan
Sebelumnya Ketua BKM Asy Syafi'iyah Dr H Eddy Syofian dalam sambutannya menyatakan perbedaan pelaksaan sholat Iduladha tahun ini tidak dimaknai sebagai perpecahan, karena masing masing pihak memiliki pandangan dalil dan hukum. Umat Islam semakin dewasa dan menyikapi perbedaan itu.
"Perbedaan itu adalah rahmat bagi umat," ujar Eddy Syofian seraya menyebut umat Islam untuk terus melihara ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesatuan.
Dia juga melaporkan sejak 6 bulan terakhir BKM telah menyalurkan dana pendidikan bagi siswa SD,,SMP, SMA/SMK sebanyak 35 siswa dari keluarga yang kurang mampu yang bermukim di sepanjang sungai dekat Masjid Asy Syafi'iyah dengan total biya yang sudah disalurkan Rp26.667.000 dan BKM juga menyimpan tabung amal untuk kaum dhuafa.
Warga bantaran Sungai terima hewan kurban Gubsu
Sementara itu BKM Asy Syafi'iyah menyalurkan daging kurban bantuan Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi berupa satu ekor sapi untuk masyarakat yang bermukim di bantaran Sungai Babura persisnya di sepanjang jalan Sutan Sinomba Kel Helvetia Timur, Kec Medan Helvetia dan Kel Karang Barombak. Kec Medan Barat.
Seorang warga bantaran sungai yang bernama Tukijo menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Sumut atas bantuan daging kurban. Begitu juga seorang Ibu rumah tangga bernama Lidya yang putrinya juga mendapat beasiswa pendidikan dari BKM Asy Syafi'iyah juga menyampaikan terima kasih.
BKM Asy Syafi'iyah tahun ini menyembelih hewan kurban sapi 11 ekor dan kambing 15 ekor untuk disalurkan kepada 600 KK.
Proses penyembelihan dilakukan oleh penyembelih profesional dari Juru Sembelih Hewan.( JULEHA ) dan.proses penyaluran berjalan lancar.
Semua sapi dan kambing yang disembelih telah dinyatakan bersih dari pe nyakit PMK setelah diperiksa oleh petugas dari Dinas Peternakan Kota Medan. Sebelumnya, hewan qurban tersebut sudah divaksin,.