17 Mei 1980: Berdirinya Perpustakaan Nasional dan peringatan Hari Buku Nasional

Elshinta.com, Perpustakaan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diresmikan pada tanggal 17 Mei 1980 berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0164/0/1980.

Update: 2023-05-17 06:00 GMT
Gedung Perpustakaan Nasional. (https://bit.ly/44VQ0NZ/elshinta.com)

Elshinta.com - Perpustakaan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diresmikan pada tanggal 17 Mei 1980 berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0164/0/1980.

Melansir detik.com, awal berdirinya PNRI merupakan dampak dari budaya bangsa barat di abad ke-16 saat berkunjung ke Indonesia. Awalnya, perpustakaan mulai didirikan dengan tujuan untuk menunjang program agama mereka sehingga perpustakaan awal berdiri di gereja pada zaman VOC (Vereenigde OosJurnal Indische Compagnie) di Batavia (Jakarta).

Memiliki nama awal Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), lembaga ini dipelopori oleh Dewan Hindia Belanda Mr. J. C. M. Rademaker dengan melakukan pengumpulan buku dan manuskrip untuk koleksi perpustakaan.

Pada tahun 1950, namanya berubah menjadi lembaga Kebudayaan Indonesia karena sudah diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan namanya pun diubah menjadi museum pusat sehingga dikenal dengan perpustakaan umum pusat.

Tidak berhenti di situ namanya pun terus berganti menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaan dikenal dengan nama Perpustakaan Museum Nasional yang kemudian digabung ke Pusat Pembinaan Perpustakaan pada tahun 1980. Akhirnya Pada tahun 1989, terjadi perubahan kembali. Pusat Pembinaan Perpustakaan disatukan menjadi bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Peringatan Hari Buku Nasional

Melansir detik.com, Hari Buku Nasional pertama kali diperingati pada tahun 2002. Peringatan Hari Buku Nasional ini merupakan ide yang dicetuskan oleh Abdul Malik Fadjar yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan dalam Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarno Putri dan Hamzah Haz. Tanggal 17 Mei dipilih sebagai peringatan Hari Buku Nasional berdasarkan pada berdirinya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 17 Mei 1980.

Alasan Abdul Malik Fadjar mencetuskan peringatan ini adalah untuk meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat di seluruh Indonesia yang saat itu masih tergolong rendah. Data yang dikeluarkan UNESCO pada 2002 menunjukkan, tingkat literasi orang dewasa atau penduduk yang berusia 15 tahun ke atas berada di angka 87,9%. Angka tersebut jauh jika dibandingkan dengan negara-negara di Kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia (88,7%), Vietnam (90,3%), dan Thailand (92,6%).

Selain literasi yang rendah, penjualan buku pada saat itu juga terbilang rendah. Setiap tahunnya, Indonesia hanya mencetak 18 ribu buku. Angka tersebut terbilang sangat rendah jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Jepang yang mencetak 40 ribu buku setiap tahunnya dan Tiongkok dengan 140 ribu buku per tahunnya.

Abdul Malik Fadjar sadar bahwa meningkatkan minat baca masyarakat merupakan sebuah tantangan yang cukup berat mengingat generasi muda yang sudah mulai didominasi oleh sistem komunikasi dengan telepon, tetapi sedikit membaca buku. Abdul Malik Fadjar akhirnya mengajak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan minat baca sebab membaca bisa menambah pengetahuan perkembangan dunia modern.

Tags:    

Similar News