Kepala sekolah ini rela beli mobil demi untuk antar jemput siswa di daerah terpencil

Berada di tengah persawahan menjadikan SD Negeri Sugihan 3, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah masuk kategori sekolah daerah terpencil karena jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut menjadikan sekolah kekurangan murid setiap tahunnya, karena orangtua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang mudah aksesnya.

Update: 2023-09-11 18:29 GMT
Sumber foto: Pranoto/elshinta.com.

Elshinta.com - Berada di tengah persawahan menjadikan SD Negeri Sugihan 3, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah masuk kategori sekolah daerah terpencil karena jauh dari permukiman warga. Kondisi tersebut menjadikan sekolah kekurangan murid setiap tahunnya, karena orangtua memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang mudah aksesnya.

Berbagai upaya dilakukan pengelola sekolah untuk mendatangkan siswa. Salah satunya dengan menyediakan mobil antar jemput yang digagas Kepala Sekolah SD Negeri Sugihan 3, Septina Ika Kadarsih. Dia membeli mobil Suzuki Carry keluaran 1988 yang difungsikan sebagai mobil sekolah. 

"Belinya hasil  penjualan motor saya, sudah sekitar setahun lalu, Rp15 juta, kemudian dimodifikasi sebagai mobil antar jemput siswa. Tapi memang seringnya untuk mengantar siswa pulang, diantar sampai ke rumah masing-masing," kata Septina seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Pranoto, Senin (11/9). 

Menurut Septina, seluruh siswa menggunakan jasa mobil tersebut setiap harinya. Total 25 siswa diantar dalam dua rombongan.

"Diantar dari yang paling dekat, di sekitar sekolah sampai siswa yang rumahnya di wilayah Candi, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Siswa di sini memang banyak juga yang dari Boyolali," paparnya.

Septina mengatakan, jika siswa berjalan kaki ada yang menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer melalui perkebunan.

"Kasihan juga kalau terlalu jauh, selain capai saat berjalan juga bisa terlambat. Kalau dengan mobil ini mereka jadi lebih cepat. Setiap hari, siswa yang menggunakan jasa mobil antar jemput  membayar Rp 2.000 istilahnya hanya untuk ganti bensin. Alhamdulillah orangtua juga tidak keberatan, karena selain anak lebih cepat sampai rumah, mereka juga merasa aman dan nyaman karena didampingi guru," kata Septina.

Septina mengatakan, terkadang dirinya yang menyetir sendiri mobil tersebut saat mengantar siswa. Hal ini karena keterbatasan tenaga khusus untuk menyetir mobil tersebut.

"Jadi di sekolah ini ada 10 tenaga pendidik, terdiri dari 9 perempuan dan satu laki-laki. Kalau yang laki-laki pas ada halangan, ya saya sopir sendiri ke rumah siswa, bagi-bagi tugas," paparnya.

Seorang siswa kelas IV, Yusuf Eka Saputra mengatakan, senang dengan adanya mobil antat jemput tersebut.

"Jadi tidak terlambat, kalau dulu berangkat sekolah pukul 06.00 WIB jalan kaki sekarang lebih cepat sampai sekolah dan bisa berangkat bareng teman lainya," katanya.

Tags:    

Similar News