Sumur, sungai, pompa air kian mengering, warga Bogor serbu bantuan air bersih
Sejumlah warga di Kabupaten Bogor hingga kini masih sulit mendapatkan air bersih akibat kemarua panjang yang melanda wilayah tersebut.
Elshinta.com - Sejumlah warga di Kabupaten Bogor hingga kini masih sulit mendapatkan air bersih akibat kemarua panjang yang melanda wilayah tersebut. Bahkan, tercatat ada sedikitnya 116 desa yang ada di 27 kecamatan mengalami dampak kekeringan. Untuk mendapatkan air bersih wargapun rela antri baik di masjid, penampungan air bersih, hingga di lokasi bantuan air bersih baik dari Pemerintah maupun donatur lainnya seperti yang dialami warga di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal,Kabupaten Bogor.
Lanin, Salah seorang warga di Desa nambo ini rela antri demi mendapatkan air bersih yang disalurkan oleh salah satu perusahaan di daerahnya itu.
"Alhamdulilah, warga sudab dapat bantuan air bersih dari perusahaan terdekat,seperti PT.PPLi, hampir semua pompa-pompa warga kering, sumur sudah ngga ada airnya. Kita terpaksa harus beli air isi ulang. Padahal untuk mandi dan mencuci butuh banyak air," keluhnya.
Dirinyapun bersama ratusan warga lainnya rela antri berjam jam demi mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya. "Tidak apalah antri yang penting dapat air bersih, soalnya semuanya sudah menyusur termasuk sungai yang adapun sudah nyaris kekeringan," bebermya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Arif Permana, Jumat (13/10).
Sejumlah warga antri air bersih ini bukan hanya di lokasi bantuan air bersih saja, namun di sejumlah rumah ibadah pun terlihat sejak tadi pagi dipadati warga untuk bisa mendapati air bersih.
Sementara itu Manager Local Stakeholders and Security PPLI, Achmad Farid menuturkan, merespon kondisi ini, salah satu perusahaan yang yang beroperasi di Desa Nambo, PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI) langsung mengerahkan 40 truk tangki dan pipanisasi dari sumur perusahaan untuk menyalurkan air bersih di desa tersebut.
"Kami salurkan 320 ribu liter secara bertahap ke masyarakat Desa Nambo sejak 25 September lalu dan masih terus berjalan sampai hari ini," terang Achmad Farid.
Bantuan tersebut lanjut Farid sebagai bentuk tanggungjawab sosial perusahaan karena Desa Nambo adalah lokasi dimana perusahaan berada. "Sebagian karyawan kita juga adalah warga desa ini, kami menerima keluhan dari para pekerja dan pengurus lingkungan terkait kekeringan yang berkepanjangan ini," ungkapnya.