Sebuah karya tentang perjuangan ibu menyusui dalam ICAD ke-13
Indonesia Contemporary Art & Design kembali digelar sebagai laboratorium eksperimental para seniman untuk memamerkan karyanya yang menawarkan pandangan yang lebih mendetail tentang berbagai gagasan mengenai kepedulian, humor, feel-good, dan emosi-emosi kontras yang ada di sekitarnya.
Elshinta.com - Indonesia Contemporary Art & Design kembali digelar sebagai laboratorium eksperimental para seniman untuk memamerkan karyanya yang menawarkan pandangan yang lebih mendetail tentang berbagai gagasan mengenai kepedulian, humor, feel-good, dan emosi-emosi kontras yang ada di sekitarnya.
“FGL” atau Feel-Good Lab menjadi manifesto kuratorial Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) di tahun ketiga belas pameran ini berlangsung. Manifesto ini berfokus pada emosi positif saat bereksperimen, bermain, dan mengutak-atik; tindakan yang mungkin berasal dari keingintahuan, keinginan, atau kebutuhan.ungkap Amanda Ariawan, Lead Curator ICAD 13.
Menurut catatan Tim Kuratorial ICAD 13 yang terdiri atas para kurator muda, Lead Curator Amanda Ariawan dan Guest Curator Prananda L. Malasan, manifesto “FGL” meyakini penciptaan kondisi di mana kita merasa selaras dengan praktik karya yang dilakukan sehari-hari, mengenali hak-hak kita untuk mewujudkan perasaan sejahtera secara emosional di dunia saat ini.
“Berangkat dari manifesto tersebut, pameran ICAD 13 nantinya akan diperlakukan sebagai laboratorium eksperimental, untuk mencapai atau mengungkapkan pemikiran kritis seputar keadaan ini; ruang di mana seniman, desainer, dan publik dapat mengeksplorasi, mengaktifkan, dan mengolah perasaan mereka kembali,” ungkap Amanda Ariawan, Lead Curator ICAD 13 dalam keterangan yang diterima redaksi elshinta.com, Rabu (18/10).
ICAD 13 menampilkan 54 pelaku kreatif multidisipliner, kolektif, dan juga komunitas yang bergerak di berbagai bidang; seni, desain, musik, budaya, dan material baru. Karya-karya mereka akan terbagi dalam lima (5) kategori, yaitu Special Appearance, In Focus, Featured, Open Submission, dan Collaboration. Tahun ini, jumlah submission dari individu dan kolektif bertalenta bahkan meningkat dua kali lebih banyak daripada tahun lalu serta datang dari 18 kota dan 7 negara.
Salah satu yang menarik perhatian dari pameran ICAD 13 ini adalah sebuah karya bertajuk ‘ASI’ yg dikreasikan oleh seniman kontemporer dan koreografer Ressa Rizky Mutiara
ASI mengisahkan perjalanan satu tahun Ressa Rizky Mutiara menyusui anaknya sebagai ibu pekerja yang kewalahan. Lewat risetnya, ia semakin menyadari betapa pentingnya mengASIhi. Paham “my body, my rules” kini menggelitik nalarnya sebab memunculkan penyangkalan terhadap fitrah tubuh perempuan. Untuk menyampaikan pesannya tersebut, Ressa berkolaborasi dengan seniman Ayu Kobelita yang akan menggambarkan proses produksi ASI di dalam tubuh
Perjuangan seorang ibu yg sedang menyusui itu kemudian mengilhami sebuah karya dalam bentuk koreografi, berangkat dari pengalaman Ressa ketika menderita radang kelenjar susu.
Pameran utama ICAD berlangsung di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan pada tanggal 13 Oktober hingga 26 November 2023 dengan aktivasi program di venue utama, berbagai venue partner, dan tempat publik di area Kemang melalui program Kemang 12730.