Angka prevalensi stunting di Kabupaten Sleman alami penurunan

Kabupaten Sleman DIY berkomitmen untuk menurunkan angka stunting dengan kolaborasi berbagai pihak. Perlu strategi dan upaya untuk mengurangi angka stunting di Sleman yang dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta tetap sasaran.  

Update: 2023-11-21 16:05 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Kabupaten Sleman DIY berkomitmen untuk menurunkan angka stunting dengan kolaborasi berbagai pihak. Perlu strategi dan upaya untuk mengurangi angka stunting di Sleman yang dapat dilakukan secara efektif dan efisien serta tetap sasaran.  

Angka prevalensi Stunting di Kabupaten Sleman berdasarkan Survei Starus Gizi Indonesia (SSGI) mengalami penurunan yaitu dari angka 16 % di tahun 2021 menjadi 15 % di tahun 2022. Berdasarkan e-PPBGM tahun 2021 angka stuinting di Sleman sebesar 7,2 % mengalami penurunan pada tahun 2022 sebesar 6,88 % atau turun sebesar 1,9 %.

" Tentunya kita berharap di tahun 2023 dan tahun 2024 nanti angka stunting di Sleman akan semakin menurun, "ujar Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, pada acara Diseminasi Pengukuran dan Publikasi Stunting di Alana Hotel, Sleman, Senin (20/11/2023). 

Penurunan percepatan stunting di Sleman diupayakan melalui Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) mulai dari Kabupaten, Kapanewon, dan Kalurahan serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) serta dukungan pemangku kepentingan lainnya. 

"Kegiatan ini saya harapkan akan semakin menggencarkan upaya penurunan stunting, Target menurunnya angka stunting di Kabupaten Sleman pada tahun 2024 yaitu diharapkan dapat turun lagi diangka 14 % berdasarkan SSGI dan sebesar 5 % berdasarkan e-PPBGM. 

Upaya dalam mengurangi angka stunting dapat diupayakan dengan menerapkan pola hidup sehat serta sosialisasi dan edukasi pentingnya mengkonsumsi makanan yang bergizi terutama protein hewani seperti ikan, daging dan telur kepada keluarga, anak dan pasangan yang akan melakukan pernikahan. 

Upaya tersebut harus dilakukan secara konsisten, mengingat stunting dapat menyebabkan 3 (tiga) G, yaitu Gagal Tumbuh, Gagal Kembang dan Gagal Metabolik. Anak yang menderita gagal metabolik dan stunting akan berisiko terhadap timbulnya penyakit tidak menular (PTM) atau penyakit degeneratif diantanya Diabetus Militus, Jantung, Hipertensi, Cancer dan lain sebagainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnomo mengatakan bahwa Pemkab Slemab secara rutin telah melakukan diseminiasi dan pengukuran stunting. Penurunan signifikan prevalensi balita stunting juga karena adanya anggaran insentif fiskal dari pusat untuk penanganan stunting.

"Faktor lainnya karena adanya asupan yang kaya protein yang sasarannya ibu hamil, bayi yang baru lahir, termasuk balita, " pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Selasa (21/11). 

Tags:    

Similar News