Gandeng anak muda, BHI masif kampanyekan peduli iklim

Krisis iklim membuat banyak orang khawatir akan dampak yang mengerikan. Termasuk masyarakat Indonesia yang juga mempunyai kekhawatiran tinggi terhadap krisis iklim. 

Update: 2023-11-22 19:56 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Krisis iklim membuat banyak orang khawatir akan dampak yang mengerikan. Termasuk masyarakat Indonesia yang juga mempunyai kekhawatiran tinggi terhadap krisis iklim. 

Masyarakat Indonesia termasuk anak-anak muda memiliki tingkat kepercayaan tinggi terhadap pemimpin agama dalam mendapatkan informasi. Bahkan 92 % anak muda perkotaan memandang agama sebagai hal yang penting bagi mereka.

Oleh karena itu, anak muda menjadi sosok penting dalam menghadapi isu-isu perubahan iklim. Seperti yang dilakukan Bengkel Hijraj Iklim (BHI) yang menggandeng anak muda untuk ikut terlibat dalam isu perubahan iklim, adaptasi mitigasi, dan juga transisi berkelanjutan. 

"Kami berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas anak muda dalam membahas isu lingkungan, " ujar Project Lead Bengkel Hijraj Iklim (BHI) Aldy Permana dalam Media Briefing di Yogyakarta, Selasa (21/11/2023). 

Pada tahapan pertama, BHI memberikan pelatihan pada Oktober 2022 yang diikuti 20 anak muda Islam dari berbagai daerah di Indonesia. Kemudian lima orang alumni diberikan kesempatan untuk mendaftarkan proyek atau idenya dalam bentuk proposal dan diberikan funding.

"Lima orang alumni tersebut juga mendapatkan pelatihan dan mentoring. Mereka mendapatkan pendampingan dari strategi hingga tahap implementasi. Dua diantara proyek tersebut yakni My Green Leaders dan Salawaku Movement, " jelasnya. 

Peneliti Pusat Studi Kepemudaan dan Departemen Sosiologi UGM, Ragil Wibawanto  mengapresiasi berbagai program yang ada di BHI. Karena merupakan wujud aksi berkelanjutan dan praktek baik dari kepedulian terhadap krisis iklim. Menurutnya, jumlah generasi Z itu cukup besar dan mereka akan menjadi pemimpin baru yang menjadi potensi sebagai penerus Indonesia. Dalam hal ini, ia menyoroti bahwa isu dan gerakan lingkungan ini lebih banyak dilakukan di kota. 

"Padahal desa juga mengalami permasalahan lingkungan yang besar. Sehingga isu lingkungan ini harus didekatkan dengan konteksnya atau dimasukkan dalam lokalitasnya," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Rabu (22/11). 

Penggagas proyek Salawaku Movement, Aniati Tokomadoran mengatakan, menjelaskan bahwa program yang digarapnya di empat pondok pesantren di DIY yakni , Al Imdad, Assalafiyah, Ar-Rahmah, dan Asy Syifa. Dari riset tersebut ditemukan adanya kesenjangan pengetahuan antara pengasuh pondok pesantren, para santri, dan para aktivis itu sendiri. Para santri belum paham dengan aksi perubahan iklim, mereka melihat itu sebagai hal yang normal dan bukan masalah besar. Dari situ diketahui bahwa ada perbedaan pengetahuan dengan pesantren. 

Dari riset tersebut, ia juga mengembangkan modul bertajuk Climate Boarding School. Pada bulan Maret 2023 ia telah mendiseminasikan modul ini dalam kegiatan People Strike for Peace, Women, and Climate Justice. Ia juga telah menjalin kerjasama dengan dua pondok pesantren yang menjadi tempat risetnya.

“sejak riset itu pihak pondok pesantren mulai mengerti dan sadar untuk mempraktekkan kesadaran lingkungan, mereka mengurangi jajanan dengan kemasan sekali pakai dan disuport dengan pengelolaan sampah mandiri di pesantren,” jelas Ani.

Sementara itu, Kholida Annisa yang menggarap proyek My Green Leaders, mendorong munculnta pemimpin yang pro iklim pada 2024. Dalam proyek ini, ia menggandeng anak muda yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Pada bulan Juni 2022, ia mengadakan  Future Green Leaders Camp untuk mendorong kaum muda agar mempunyai perspektif lingkungan.

"Kami ingin mengarusutamakan isu lingkungan. Sehingga kerusakan lingkungan tidak lebih cepat daripada gerakan peduli lingkungan. Salah satunya yakni dengan membuat anak muda memahami kekuatan mereka secara politis. Kami berharap jadi kekuatan besar yang mendorong pemimpin pro iklim dan massif melakukan pelatihan Future Green Leaders dan menyiapkan anak muda jadi Green Leaders, " pungkas wanita yang pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Lingkungan Hidup PP IPM periode 2021-2023. 

Tags:    

Similar News