Inflasi DIY tahun 2023 capai 3,17% lebih tinggi dari nasional

Angka inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2023 berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY tahun 2023 mencapai 3,17% (year-on-year/yoy). Angka inflasi di DIY ini lebih tinggi dari angka nasional sebesar 2,61%.

Update: 2024-01-03 21:11 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Angka inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tahun 2023 berdasar data dari Badan Pusat Statistik (BPS) DIY tahun 2023 mencapai 3,17% (year-on-year/yoy). Angka inflasi di DIY ini lebih tinggi dari angka nasional sebesar 2,61%.

"Pada Desember perkembangan harga konsumen mengakibatkan inflasi secara month to month 0, 35 persen, angka ini lebih rendah dari tahun sebelumnya tetapi lebih tinggi dari angka nasional yang hanya mencapai 2, 61 persen," kata Kepala BPS DIY, Herum Fajarwati di kantor BPS DIY, Selasa (2/01/2024).

Jika dilihat secara grafik dimana tahun 2023 hanya 1 bulan yang mengalami deflasi yaitu pada bulan Agustus. Inflasi bulan Desember sebesar 0,35 persen tersebut lebih rendah dibanding selama dua tahun yang lalu baik 2021 maupun 2022 dan relatif sama dibanding inflasi bulan lalu November 2023.

Sementara jika dilihat perkembangan berdasar kelompok pengeluaran pada bulan Desember ini kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan inflasi 1, 20 persen dan memberikan andil 0, 28 persen. Yang kedua adalah kelompok kesehatan dengan inflasi 0,62% memberikan andil 0,02%, dan ketiga adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi 0,40% dan andil 0,02%.

"Kemudian kalau kita amati andil komoditas paling dominan mendorong terjadinya inflasi yang pertama adalah cabai merah dengan andil 0,09%, kemudian bawang merah dan emas perhiasan masing-masing 0,03%. Kemudian tomat, cabai rawit, angkutan udara, gula pasir, rokok putih masing-masing andil 0,02%, kemudian tempe dan rokok kretek masing-masing memberikan andil 0,01%," imbuhnya.

Sebaliknya untuk komoditas yang dominan menghambat terjadinya inflasi yang pertama adalah daging ayam ras dengan andil -0,05%, kemudian kembang kol, bahan bakar rumah tangga, dan daging sapi masing-masing -0,01%, sedangkan yang lainya secara dua digit masih relatif pada 0,00%. 

Untuk perubahan harga dan andil komoditas yang memberikan andil inflasi tertinggi  terhadap perkembangan inflasi Desember 2023 yaitu cabe merah dimana selama tiga bulan berturut-turut cabe merah mengalami inflasi dan Desember inflasi sebesar 29,64% memberikan andil 0,09%, tetapi jika dibanding November inflasi sudah mulai melambat. Pada bulan November inflasi mencapai 36,71%.

Kemudian yang kedua adalah bawang merah, pada dua bulan terakhir November-Desember bawang merah mengalami inflasi setelah di bulan Oktober masih deflasi dengan masing-masing inflasi sebesar 14 % lebih dan Desember-November memberikan andil 0,03 %. Kemudian emas perhiasan selama 3 bulan terakhir juga mengalami inflasi pada  Desember mencapai 2,73 % dan memberikan andil 0,03%. Untuk tomat pada bulan November Desember mengalami inflasi bahkan pada Desember tomat mengalami inflasi sebesar 28,63 % dan memberikan andil 0,02 % sedang pada Oktober sebelumya mengalami deflasi.

Untuk daging ayam ras pada bulan Desember sebagai penghambat terjadinya inflasi dimana daging ayam ras selama tiga bulan berturut- turut mengalami deflasi, pada Desember deflasi mencapai 5,35% dan memberikan andil deflasi 0,05%. Kemudian kembang kol setelah Oktober dan November mengalami inflasi pada bulan Desember mengalami deflasi 19,97% dan memberikan andil 0,01%.

Kemudian untuk bahan bakar rumah tangga selama 3 bulan terakhir mengalami deflasi pada Desember deflasi 0,25% dan memberikan andil 0,01% deflasi. Daging sapi pada dua bulan terakhir juga mengalami deflasi pada Desember 1,22 % dan memberikan andil 0,01%.

"Jika Kita lihat perkembangan inflasi tahunan atau year on year yang sama dengan 2023 untuk Yogya 3,17%, jika kita kita lihat secara grafik jauh lebih rendah dibanding inflasi tahun 2022 lalu yang mencapai 6,49% artinya ini tidak sampai separohnya dari tahun 2022 yg lalu dan jika kita lihat dibanding dari 2021 sedikit lebih tinggi dimana hanya mencapai 2,29%," katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Rabu (3/1). 

Tags:    

Similar News