Forum paguyuban rektor kumpul di UM, ini yang dibahas
Sejumlah persoalan dibahas dalam rapar kerja ( raker) paguyupan rektor PTN di Jawa Timur yang dipusatkan di Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (6/2).
Elshinta.com - Sejumlah persoalan dibahas dalam rapar kerja ( raker) paguyupan rektor PTN di Jawa Timur yang dipusatkan di Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (6/2).
“Kita membicarakan ranking nasional maupun internasional. Karena di era ini perlu kolaborasi antar perguruan tinggi maju bersama. Kemudian kita membicarakan juga tentang bagaimana penguatan kolaborasi Tri Dharma Perguruan Tinggi,” kata Ketua Paguyuban Rektor PTN di Jawa Timur, Prof. Nurhasan seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, El-Aris.
Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. menjelaskan, pertemuan 12 perguruan tinggi negeri (PTN) merupakan pertemuan rutin tiga bulan. Selain itu pada raker ini juga dibahas terkait peraturan menteri atau Permen terkait UKT dan Iuran Pembangunan (IP) yang perlu didiskusikan.
“Dan tentu saja pada raker ini juga dibahas adanya kemungkinan melibatkan perguruan tinggi swasta (PTS) se Jawa Timur,” ujarnya.
Langkah ini, lanjutnya dimaksudkan agar dalam pertemuan rutin 12 PTN adanya upaya penerimaan mahasiswa baru dengan mengikuti sejumlah aturan yamg ada.
“Tentu saja kita juga bahas terkait bonus demografi karena itu sudah diteliti oleh para ahli dari luar negri dimana Indonesia nomer 4 di dunia tahun 2050 dan itu harus direspon perguruan tinggi dengan tujuan Indonesia Emas 2045 dan perguruan tinggi harus menyiapkan SDM unggul,” jelasnya.
Sementara itu Rektor Universitas Negeri Malang (UM), Prof Hariyono mengapresiasi pelaksana raker Paguyuban Rektor PTN se Jawa Timur.
“Apalagi tadi dihadiri Menko PMK, Muhadjir Effendi dimana beliau menitipkan pesan terkait transfer teknologi harus bisa diantisipasi perguruan tinggi karena selama ini muncul pemahaman transfer teknologi itu barang yang masuk padahal transfer teknologi tidak ada di barang namun diotak manusia,” ujar Hariyono.
Dan itu artinya, lanjut Hariyono, perguruan tinggi harus menyiapkan SDM dimana melalui kampusnya masing-masing dan melalui kompetensinya masing dapat mempelajari ilmu pengetahuan yang belum dipelajari dan dikembangkan.