Fisipol UGM dorong keterlibatan mahasiswa terlibat Pemilu 2024 termasuk jadi timses paslon 

Kampus dengan mahasiswanya diharapkan memiliki kontribusi nyata mengawal dan menguatkan demokrasi di Indonesia. Diantaranya terlibat dalam gelaran pesta demokrasi 5 tahunan Pemilu. Mahasiswa yang terlibat aktif dalam proses Pemilu sudah seharusnya mendapatkan apresiasi akademik dari kampus. 

Update: 2024-02-09 19:11 GMT
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Kampus dengan mahasiswanya diharapkan memiliki kontribusi nyata mengawal dan menguatkan demokrasi di Indonesia. Diantaranya terlibat dalam gelaran pesta demokrasi 5 tahunan Pemilu. Mahasiswa yang terlibat aktif dalam proses Pemilu sudah seharusnya mendapatkan apresiasi akademik dari kampus. 

Untuk mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses Pemilu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM menggelar program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka (MBKM) Pemilu Berintegritas. Progam ini untuk menyiapkan mahasiswa agar menjadi sengkuyung pemilu atau memikul bersama-sama proses Pemilu.  Mahasiswa yang aktif terlibat dalam proses Pemilu mendapatkan rekognisi maksimal sebesar 10 SKS.

Ruang keterlibatan mahasiswa terbagi dalam 3 yaitu dalam penyelenggaraan pemilu, dimana mahasiswa dapat berperan menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS). Kemudian terlibat dalam pengawasan yaitu mahasiswa sebagai pemantau pemilu. Dalam hal ini, Fisipol UGM telah bekerjasama dengan Komite Independen Sadar Pemilu (KISP) dalam melakukan pemantauan pemilu. Dan ruang keterlibatan ketiga yaitu mahasiswa masuk dalam tim pemenangan atau tim sukses pasangan calon. 

"Kami mengakui aktivitas mahasiswa dalam pemenangan Pemilu itu sebagai aktivitas pembelajaran yang produktif, kami tidak melarang mahasiswa jadi timses. Justru kalau mereka jadi timses dan bisa tunjukan kinerja yang terukur itu bisa sebagai SKS. Ini adalah aktivitas politik real, kami tidak mentabukan mahasiswa yang jadi timses pendukung 01, 02, qtqu 03, itu kita akui sebagai kiprah pembelajaran produktif. Karena kenyataanya banyak tokoh-tokoh penting negeri ini yang dimulai dari aktivis mahasiswa yang terlibat dalam politik sejak dini," ujar Dosen Politik dan Pemerintahan UGM, Abdul Gaffar Karim pada  diskusi "Peran Nyata Kampus dalam Penentuan Nasib Demokrasi Indonesia" yang diselenggarakan oleh Election Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (EC Fisipol UGM) di Auditorium Mandiri Lt. 4 Fisipol UGM, Rabu, (07/02/2024).

EC Fisipol UGM akan memastikan terhadap pengawalan substansi bahwa aktivitas mahasiswa dalam koridor pengembangan demokrasi Indonesia bukan sekedar ikut pemenangan pemilu atau tindakan praktikal lainnya seperti buzzer.

Ketua Bawaslu DIY, Muhammad Najib mengapresiasi program yang diinisiasi Fisipol UGM tersebut. Menurutnya, kampus memang sudah seharusnya hadir dan memberikan kontribusi nyata dalam penyelenggaraan atau pengawasan Pemilu. Apalagi Bawaslu memiliki keterbatasan personel untuk pengawasan Pemilu. Kampus diharapkan dapat memberikan edukasi secara terus menerus untuk mencapai Pemilu yang berintegritas jujur dan adil. 

"Pengawasan Pemilu harus melibatkan masyarakat, masyarakat bisa berkontribusi mencegah terjadinya pelanggaran untuk menutup peluang pelanggaran," katanya.

Pada kesempatan yang sama, komisioner KPU DIY Divisi Hukum dan Pengawasan, Ibah Muthiah mengatakan bahwa kampus dalam sejarahnya  diharapkan terlibat dan memberikan kontribusi nyata dalam menjaga nilai demokrasi yang beretika. Diperlukan kolaborasi antara kampus dengan penyelenggara Pemilu agar bisa menjalankan fungsi pengawasan, pemantauan, dan juga fasilitator.

"Kampus dapat bertindak dinamis, bisa melakukan supervisi, monitoring, fasilitator sehingga tidak apatis politik," pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Jumat (9/2).

Tags:    

Similar News