Korlantas Polri gelar 'Gebyar Keselamatan' untuk tekan lakalantas
Tingkat keselamatan berlalu lintas di Indonesia dinilai masih jauh dari harapan. Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan mengatakan pihaknya menargetkan indeks keselamatan di 1.37 persen atau jumlah korban fatalitas sampai 2025 diharapkan hanya berkisar pada 27 ribu. Menurutnya, jumlah fatalitas laka lantas di Indonesia, termasuk Jatim setiap tahun selalu naik.
Elshinta.com - Tingkat keselamatan berlalu lintas di Indonesia dinilai masih jauh dari harapan. Kakorlantas Polri Irjen Pol Aan Suhanan mengatakan pihaknya menargetkan indeks keselamatan di 1.37 persen atau jumlah korban fatalitas sampai 2025 diharapkan hanya berkisar pada 27 ribu. Menurutnya, jumlah fatalitas laka lantas di Indonesia, termasuk Jatim setiap tahun selalu naik.
"Nanti kita lihat sudah sampai mana korban laka lantas ini, sudah tercapai atau tidak, lalu kita bandingkan dengan negara asia tenggara, kita ingin indeks keselamatan teratas di asia tenggara, tapi faktanya keselamatan berlalu lintas di indonesia hanya di rangking 4 terburuk, bukan di atas, bisa kita lihat negara-negara lain di Singapura, Filipina, dan lain-lain jauh lebih baik," kata Aan saat pemaparan materi Gebyar Keselamatan 2024 di Gedung Mahameru Polda Jatim bersama komunitas motor sejatim, Sabtu (10/2).
"Kita perlu effort yang lebih keras lagi, komunitas lalin menjadi duta kita, duta polri, duta pemerintah untuk menjaga keselamatan berlalu lintas. Jatim sendiri memang menyumbang angka laka lantas cukup tinggi, ada di rangking kedua setelah Jakarta, tahun lalu 2023 tertinggi, alhamdulillah tahun ini ada di rangking kedua," tambahnya.
Aan mengaku prihatin lantaran data laka lantas di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Di tahun 2023, ada 152 laka lantas. Menurutnya, ada kenaikan 10 persen pada tingkat fatalitas korban atau sekitar 27.596 orang.
Apabila dibandingkan jumlah penduduk atau kendaraan bermotor di Indonesia, Aan memprediksi masih jauh dari target keselamatan di tahun 2025. Ia menyebut, target yang sudah ditentukan di tahun 2025 masih cukup jauh, yakni di 9.9 persen.
"Artinya, perlu kerja keras untuk realisasikan target, masih 9.9 indeks keselamatan Indonesia. Di tahun 2024 ini jumlah laka lantas harus turun, itu perintah Pak Kapolda Jatim (Irjen Imam Sugianto) juga, bukan angkanya yang diturunkan tapi dirubah, sekarang yang dinilai adalah upayanya dari para Kasatlantas bagaimana mengajak teman-teman untuk bersama-sama memberikan edukasi dan sosialisasi bersama para stakeholder untuk menurunkan angka laka lantasmulai," ujarnya.
Aan menyatakan ada data yang sangat memprihatinkan. Sebab, dari data dan hasil rekapitulasi korban laka lantas, angka terbesar adalah usia-usia produktif. Mulai usia 15 sampai 59 tahun, yakni para pelajar, mahasiswa, hingga karyawan.
"Angkanya tetap, 3 tahun berturut-turut dan menjadi korban laka lantas," sambungnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Wisnu Wardhana.
Untuk jenis kelamin dibanding usia produktif pada laka lantas dan menjadi korban, Aan memastikan adalah tulang punggung keluarga. Mulai dari suami, orangtua, atau bapak.
"Artinya, kalau ortu yang jadi korban laka lantas bisa dipastikan akan ada 1 orang janda, kalau punya anak akan ada anak yatim, akibatnya luar biasa terhadap perekonomian keluarga, negara, dan seterusnya, karena 84 persen korban meninggal dunia akibat laka lantas adalah pria sebagai tulang punggung keluarga, ini menjadi referensi kita untuk sosialisasi dan edukasi betapa laka lantas ini mengakibatkan kemiskinan, terutama untuk keluarga," paparnya.
Sedangkan faktor penyebab laka lantas angka secara nasional ini perilaku jaga jarak sering jadi penyebab laka lantas, bisa over speed, lalu tidak bisa mengerem, lalu terjadi tabrakan.
Berdasarkan data sejak 2023 yang mencapai sekitar 152 ribu laka lantas dan fatalitas korban cukup tinggi yakni 27.689, ia ingin masyarakat dan komunitas serta para produsen kendaraan untuk bersama-sama meningkatkan keselamatan berlalu lintas. Menurutnya, Jatim menjadi sasaran penekanan dan pencegahan laka lantas karena dinilai masih cukup tinggi setelah Jakarta.
"Yang sangat mengkhawatirkan, data di kita yang menjadi korban laka lantas ada pada usia produktif, meninggal sia-sia di jalan mungkin tidak paham keselamatan lalin dan didominasi laki-laki, artinya akan ada janda, anak yatim, dan kemiskinan di keluarga akibat laka lantas ini, kalau direkap akan berpengaruh dengan menyumbang kemiskinan secara nasional.
Berdasarkan data yang dihimpun Mabes Polri, Aan mengaku tengah berupaya dan mengkoordinasikan serta mengembangkan TI untuk mengelola keselamatan berlalu lintas. Supaya, bisa sejajar dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.