Sebanyak 21 ribu penyintas banjir di Demak, tinggal di tenda pengungsian

Sebanyak 21 ribu penyintas banjir bandang di Demak, Jawa Tengah, kini hidup di tenda-tenda pengungsian. Rumah mereka terendam banjir. Stok padi dan bawang membusuk. 

Update: 2024-02-16 20:34 GMT
Sumber foto: Heru Lianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Sebanyak 21 ribu penyintas banjir bandang di Demak, Jawa Tengah, kini hidup di tenda-tenda pengungsian. Rumah mereka terendam banjir. Stok padi dan bawang membusuk. 

Bahkan, banjir terdampak pada 4 kecamatan, yang membuat anak anak tak lagi bersekolah. Penyakit kulit menyerang; dan resistensi (daya tahan) mereka mulai lemah.

Ketua Badan Amil Zakat dan Nasional (Baznas) RI, Noor Achmad mengatakan setidaknya terdapat 4 kecamatan yang terdampak akibat  2 tanggul yang jebol dan belum bisa ditangani Kementerian PUPR.

"Banjir meluas dari satu kecamatan menjadi tiga kecamatan, sekarang menjadi empat kecamatan. Diperkirakan sekitar 50 hari airnya harus disedot karena sulit untuk hilang," kata Noor, Kamis (15/2)

Karenanya, kata Noor,  bantuan Baznas untuk Demak akan terus dilanjutkan meski diprediksi banjir bisa ditangani dengan tuntas dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

"Kita melanjutkan program tanggap darurat, evakuasi dan logistik," terangnya.

Sementara Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan Saidah Sakwan, menyampaikan hanya dengan gotong royong dari seluruh masyakat Indonesia menjadi kunci agar para korban terdampak bencana dapat dibantu dengan maksimal sehingga nyawa mereka dapat tertolong.

"Kami membuka dapur umum, jadi para donatur yang ingin mensupport dapur umum baik itu dana maupun natura itu sangat diharapkan karena kami harus menyiapkan dapur umum itu untuk 50 hari ke depan," ujarnya.

Saidah menambahkan, dalam kebencanaan Baznas bergerak dalam tiga hal yaitu kedaruratan dihandling oleh tim evakuator, kemudian tim  Rumah Sakit Baznas menyediakan layanan pengobatan, kemudian bidang pendidikan yang menyediakan forum-forum psikososial untuk anak-anak.

"Kita akan melihat pasca banjir, yaitu kerugian, yang mengakibatkan munculnya kemiskinan-kemiskinan baru. Ini yang akan kita antisipasi daya dukung dari publik, jadi butuh gotong royong antara kita," pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Heru Lianto, Jumat (16/2).

Tags:    

Similar News