Kendalikan potensi risiko tinggi, Kemenkes dampingi jamaah haji sejak dini

Sekitar 76 persen jamaah haji Indonesia yang melakukan pemeriksaan kesehatan dan menyelesaikan pelunasan tahap 1 terdeteksi masuk dalam kategori risiko tinggi.

By :  Widodo
Update: 2024-03-23 11:17 GMT
Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, dr. Lilik Mahendro Susilo saat memberikan pembekalan bagi Petugas haji PPIH Arab Saudi di Asrama Pondok Gede Jakarta, Sabtu (23/03). (foto: Fadhli Eza/MCH 2024)

Elshinta.com - Sekitar 76 persen jamaah haji Indonesia yang melakukan pemeriksaan kesehatan dan menyelesaikan pelunasan tahap 1 terdeteksi masuk dalam kategori risiko tinggi.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Lilik Mahendro Susilo mengatakan sebagian besar penyakit jamaah haji tahun ini merupakan faktor risiko kolesterol, serangan jantung, stroke dan pneumonia. 

"Peringkat tertinggi adalah risiko tinggi Diselipimedia (kolesterol) ada sekitar 73.517, kemudian hipertensi esensial dan diabetes melitus," jelas  dr. Lilik dihadapan peserta Bimtek PPIH Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, (23/03).

Lebih lanjut dr Lilik mengungkapkan dari segi wilayah Bali merupakan wilayah yang jamaah hajinya paling tinggi kualitas kesehatannya. 

"Sedangkan DKI Jakarta memiliki jamaah haji dengan rata rata kualitas kesehatan paling rendah," ungkap dr Lilik.

Untuk mengendalikan faktor risiko baik di dalam negeri atau pun luar negeri Petugas Kesehatan Haji Indonesia (PKHI) telah menyiapkan beberapa upaya. Salah satunya adalah program manasik kesehatan sejak jamaah haji sudah melunasi biaya.

"Sebelum keberangkatan kami lakukan manasik kesehatan dengan 8 kali pemeriksaan rutin dan kami pastikan sebelum berangkat sudah memiliki kesiapan fisik," tutur dr Lilik.

Menurut Lilik sampai saat ini para petugas kesehatan masih memantau kesehatan para jemaah yang akan berangkat nanti. 

Selain itu, dr Lilik mengungkapkan ketika proses keberangkatan hingga sampai di Tanah Suci akan ada tim kesehatan yang mendampingi jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter). 

"3 tim kesehatan PKHI akan ikut bergabung dalam kloter, mereka akan mengawal kesehatan para jamaah 24 jam mulai dari berangkat hingga nanti kembali ke tanah air," ungkap dr Lilik.

Lebih lanjut dr Lilik menyampaikan untuk mencegah terjadinya transmisi penyakit menular, maka jamaah diisyaratkan untuk divaksin.

"Dari Arab Saudi mensyaratkan vaksin meningitis maka kita wajibkan vaksinnya menjelang pemvisaan, tapi ada juga vaksin khusus untuk daerah tertentu seperti di Jawa Timur ada polio maka kita vaksin polio tapi daerah lain tidak," papar dr Lilik.

dr Lilik juga menyampaikan anjuran vaksin influenza dan pneumonia meski itu tidak wajib. Tidak hanya itu, untuk menjaga kesehatan mandiri jamaah diminta untuk membawa obat- obat pribadi untuk dibawa sehari hari dan stok selama musim haji.

"Tolong ingatkan para jamaah untuk membawa obat pribadi. Yang 45 hari masukkan ke koper, yang 5 hari dibawa mandiri. Ini untuk antisipasi pribadi," saran dr Lilik.

dr Lilik juga menjelaskan selama di Mekkah tim PKHI juga akan mendirikan klinik satelit yang ditempatkan di lobi hotel para jemaah. 

"Lewat klinik ini para jemaah yang merasa mengalami gangguan kesehatan bisa langsung memeriksakan diri ke klinik yang dekat dari tempatnya tinggal. Sehingga antisipasi bisa dilakukan sejak dini," katanya. (Yun)

Tags:    

Similar News