Ini dua alasan Elon Musk investasi pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa CEO Tesla, Elon Musk, tertarik dengan tawaran Pemerintah Indonesia terkait rencana pembangunan infrastruktur pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Update: 2024-05-20 18:11 GMT
Sumber foto: Eko Sulestyono/elshinta.com.

Elshinta.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Republik Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa CEO Tesla, Elon Musk, tertarik dengan tawaran Pemerintah Indonesia terkait rencana pembangunan infrastruktur pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan kepada Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, usai melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Fiji, Wiliame Maivalili Katonivere, saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali, Senin (20/5). 

Setidaknya ada dua alasan utama yang mendasar sehingga akhirnya membuat  CEO Tesla Elon Musk tertarik berinvestasi membangun infrastruktur pabrik baterai kendaraan listrik. Pertama karena indonesia punya kandungan bahan bantu Nikel terbesar di dunia dan kedua biaya atau harganya jauh lebih murah dibandingkan misalnya dengan Australia. 

“Sederhana lebih murah, karena 70 persen lebih Nikel (Nickel) itu ada di indonesia dan cost (biaya) kita jauh lebih murah. Jadi kita sebenarnya kita juga (tidak bermaksud) mematikan negara negara lain penghasil Nikel. Karena seperti di Australia, cost mereka khan mahal, kita khan murah karena cost transportasi kita murah,” kata Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan.

“Dia (Australia) sopir truk gajinya 200 ribu dolar setahun, jadi ya pastilah tidak bisa commit (sepaham) dengan Indonesia. Tapi bukan salahkan Indoensia karena kita melarang itu (ekspor mentah Nikel ke luar negeri) tapi kita liat downstreaming industry (kegiatan hilir migas) row material (bahan baku) be have Indonesia,” tegasnya. 

“Jadi ya jangan serta merta meyalahkan negara berkembang. Negara berkembang kan juga pengen maju, pengen naik income country (pendapatan negara),” paparnya.
 
“Ya kita semua believed to the market mechanism (percaya pada mekanisme pasar) and so believed supply & demand (percaya pada penawaran dan permintaan) this is basic principle our country (itu adalah dasar prinsip negara saya),” sambungnya.

Menko Marves juga membenarkan bahwa investasi Elon Musk di Indonesia tidak hanya layanan satelit telekomunikasi Starlink SpaceX saja, namun juga tertarik berinvestasi membangun infrastruktur pabrik baterai kendaraan listriknya di Indonesia.

“Ya kita tawarkan ke anu si Elon (Elon Musk), dan Elon tadi juga waktu ketemu dengan Presiden (Joko Widodo) dengan saya (Luhut Binsar Pandjaitan) di situ, dia juga sangat paham betul, ya dia bilang jangan ada diskriminasi (terkait Nikel),” lanjutnya.

“Kita (Indonesia) juga punya hak untuk survive (bertahan hidup),” pungkasnya. 

Tags:    

Similar News