Peduli sesama, petugas dan narapidana Lapas Kelas I Cipinang patungan hewan kurban

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang Jakarta melaksanakan penyembelihan hewan kurban di sekitar area Masjid Baiturahman Lapas Kelas I Cipinang, pada Senin (17/6). 

Update: 2024-06-17 21:10 GMT
Sumber foto: Heru Lianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang Jakarta melaksanakan penyembelihan hewan kurban di sekitar area Masjid Baiturahman Lapas Kelas I Cipinang, pada Senin (17/6). 

Kegiatan dilaksanakan usai ribuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan seluruh jajaran staf Lapas Kelas I Cipinang melaksanakan salat Idul Adha 1445 Hijriah.

"Jadi, kita sebelumnya salat Idul Adha bersama ribuan warga binaan. Lalu setelah salat Ied dilanjutkan dengan pemotongan hewan kurban," ujar Plh Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Rizal Fuadi kepada Elshinta.com di Lapas Kelas I Cipinang Jakarta, Senin (17/6). 

Lebih lanjut Rizal mengatakan pada Lebaran Idul Adha kali ini, Lapas Kelas | Cipinang mengalami jumlah  peningkatan penerimaan hewan kurban dari tahun sebelumnya. 

"Tahun kemarin itu kita dapat 10 sapi dan 6 ekor kambing. Tapi tahun ini ada 12 ekor sapi dan 8 ekor kambing," kata Rizal

Hewan kurban itu didapat dari program Corporate Social Responsibility (CSR), Mitra Kerja dan petugas Lapas Kelas I Cipinang  Jakarta, baik yang dibeli secara kolektif maupun dari kantong pribadi.

Tak kalah pentingnya, dari 12 ekor sapi yang didapat Lapas Kelas I Cipinang, 4 ekor sapi itu berasal dari donasi narapidana, di mana sebelumnya mereka memang berkeinginan untuk berkurban.

"Itu (4 ekor sapi) dari blok santri dan keluarga warga binaan yang ikut patungan untuk berkurban. Karena mereka ingin berbagi untuk sesama warga binaan lainnya  yang ada di Lapas Kelas I Cipinang,'  terang Rizal.

Adapun seluruh daging hewan kurban yang sudah disembelih nantinya akan dibagikan kepada  2.737 narapidana, pegawai Lapas Kelas I Cipinang dan warga sekitar.

Sementara untuk WBP daging hewan kurban dibagikan dalam bentuk makanan siap saji hasil olahan, karena selama menjalani pembinaan terdapat sejumlah ketentuan harus dipatuhi oleh WBP.

"Karena ada larangan-larangan yang memang tidak boleh dimiliki WBP, seperti memiliki kompor, tidak boleh memasak. Tidak boleh memiliki senjata tajam. Jadi kita kerahkan pegawai kita untuk memasak," pungkasnya seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Heru Lianto, Senin (17/6).

Tags:    

Similar News