Summer Course FK-KMK UGM 2024 angkat isu pangan dan kesehatan

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat bahwa pada tahun 2019, sekitar 690 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan, menunjukkan tantangan yang masih besar dalam mencapai keamanan pangan global. Kurang gizi, sebagai bagian dari masalah ketidakamanan pangan, menyumbang pada beban penyakit yang signifikan. 

Update: 2024-06-20 19:35 GMT
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat bahwa pada tahun 2019, sekitar 690 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan, menunjukkan tantangan yang masih besar dalam mencapai keamanan pangan global. Kurang gizi, sebagai bagian dari masalah ketidakamanan pangan, menyumbang pada beban penyakit yang signifikan. 

Hubungan antara keamanan pangan dan status kesehatan meliputi tidak hanya penyediaan kalori, tetapi juga kualitas dan keragaman diet. 

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memandang kesejahteraan pangan dan status kesehatan sebagai dimensi yang saling terkait, yang berperan penting membentuk kesehatan masyarakat secara global. 

Dalam upaya memperkuat pemahaman dan solusi terhadap tantangan ini, FK-KMK UGM bersama dengan Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Farmasi, Fakultas Teknologi Pertanian, dan Fakultas Peternakan di UGM menggelar Summer Course 2024 on Interprofessional Healthcare bertajuk "Nourishing Futures: Exploring the Intersection of Food Security and Health Status".

"Keterbatasan akses terhadap makanan yang beragam dan bergizi dapat menghasilkan berbagai bentuk kekurangan gizi, termasuk kelebihan konsumsi nutrisi tertentu. Masalah kekurangan mikronutrien, sering kali terkait dengan kekurangan variasi dalam diet, menjadi isu kesehatan global yang signifikan," ujar Ketua Panitia Summer Course FK-KMK UGM, Tony Arjuna, Rabu (19/06/2024).

Sebagai contoh, anemia akibat kekurangan zat besi memengaruhi lebih dari 1,5 miliar orang di seluruh dunia, yang berkontribusi pada peningkatan angka kesakitan dan kematian, terutama di kalangan wanita dan anak-anak. Sebaliknya, peningkatan kasus penyakit tidak menular yang terkait dengan pola makan, seperti obesitas dan diabetes, menyoroti kompleksitas hubungan antara makanan dan kesehatan yang melibatkan banyak dimensi.

Mengatasi tantangan di persimpangan keamanan pangan dan status kesehatan membutuhkan pendekatan lintas disiplin yang komprehensif, yang tidak hanya fokus pada ketersediaan makanan tetapi juga pada kualitas gizi dan pendidikan kesehatan.
Praktik pertanian berkelanjutan, ketika dipadukan dengan program edukasi kesehatan yang terarah, memiliki peran sentral dalam mendorong pilihan makanan yang lebih sehat dan secara keseluruhan meningkatkan kesejahteraan.

Menggabungkan usaha ini ke dalam strategi yang terpadu dapat secara substansial berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB terkait dengan nol kelaparan serta memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan secara menyeluruh. Merintis masa depan di mana setiap individu memiliki akses ke pangan yang bernutrisi dan kesehatan yang optimal bukanlah sekedar impian, melainkan aspirasi global yang nyata.

Summer Course 2024 yang berlangsung dari tanggal 19 Juni hingga 28 Juni 2024 diikuti peserta dari delapan negara berbeda, yaitu Amerika Serikat, Belanda, Republik Ceko, Turki, China, Thailand, Malaysia, Indonesia. Summer Course ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa UGM dalam konteks nasional dan internasional. Dalam era globalisasi, kolaborasi lintas budaya dan disiplin menjadi semakin penting dalam menangani masalah kesehatan masyarakat. 

Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata berharap Indonesia mampu menjadi negara yang bisa memenuhi kebutuhan makanan untuk warganya secara keseluruhan. Bahan makanan harus disalurkan secara kontinyu sehingga mampu memenuhi ketahanan pangan secara menyeluruh. 

"Summer Course 2024 diharapkan bisa menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi lintas disiplin untuk mendukung kesejahteraan pangan dan kesehatan, serta menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif bagi mahasiswa UGM dan mitra internasionalnya," katanya.

Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, Prof. dr. Gunadi mengatakan kegiatan Summer Course diawali dengan perkuliahan selama tiga hari dan dilanjutkan dengan kegiatan praktikum di lingkungan UGM dan kunjungan lapangan di Desa Wisata Samberembe, Erista Garden, dan PIAT UGM. Summer Course merupakan kegiatan rutin yang dilaksankan oleh UGM setiap tahunnya. 

"Summer course bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa UGM dalam konteks nasional dan internasional," pungkasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Kamis (20/6). 

Tags:    

Similar News