Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh terbunuh, upaya perdamaian two state solution Israel-Palestina semakin sulit terwujud
Dosen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara Dr, Tia Mariatul Kibtiah mengatakan terbunuhnya pemimpin Ismail Haniyeh membuat Hamas marah. Jika Hamas melakukan serangan seperti yang dilakukan tanggal 7 Oktober 2023 lalu atau serangan-serangan lainnya ke Israel, maka dikhawatirkan akan membuat Israel semakin marah, \\\\\\\\\\\\\\\"Ini akan mempertinggi konflik, saya melihat two state solution akan menjadi sulit, tidak mungkin terjadi.\\\\\\\\\\\\\\\"
Elshinta.com - Dosen Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara (Binus) Dr, Tia Mariatul Kibtiah mengatakan terbunuhnya pemimpin Ismail Haniyeh membuat Hamas marah. Jika Hamas melakukan serangan seperti yang dilakukan tanggal 7 Oktober 2023 lalu atau serangan-serangan lainnya ke Israel, maka dikhawatirkan akan membuat Israel semakin marah, "Ini akan mempertinggi konflik, saya melihat two state solution akan menjadi sulit, tidak mungkin terjadi."
Menurutnya kematian Ismail Haniyeh tidak membuat perjuangan Hamas terhenti atau selesai. Hamas akan segara mengganti pemimpin yang baru. Kematian pemimpin Hamas lanjut Tia bukan berarti selesai segalanya atau kemunduran atau menjadi terhenti perjuangan mereka.
Lebih lanjut Tia Mariatul melihat pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh lewat serangan udara ada kaitannya dengan Deklarasi Beijing yang dimoderatori China.
"14 faksi di Palestina termasuk Hamas dan Fatah sudah damai dan memiliki visi dan misi yang sama menghadapi Israel. Ketika China sebagai moderator sudah masuk kawasan politik Timteng itu, berhasil. China berhasil meredakan ketegangan hubungan diplomatik Saudi Arabia dengan Iran," papar Tia
"Dengan deklarasi Beijing, saya berharap besar ke depan (Israel Palestina) akan menuju two state solution, tapi dengan terbunuhnya Ismail Haniyeh, semuanya kembali ke titik nol."
Menurut Tia hubungan Irael Palestina pernah mendekati arah perdamaian, namun Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat dibunuh. Tidak hanya Pemimpin PLO, PM Israel Yitzhak Rabin juga dibunuh oleh yahudi ekstrim. "Sehingga tidak ada itu yang namanya two state solutions karena Israel menginginkan one state solution," ungkap Tia. (nak)